Advanced Reporting: Essential Skills for 21st Century Journalism

Advanced Reporting

Kemampuan reporter yang berkarir di media massa semakin lama tuntutannya semakin besar. Dia tidak hanya mampu menuliskan laporan dengan akurat dan menarik tetapi juga harus memiliki kemampuan multimedia. Dia harus mampu melaporkan untuk televisi, radio, online dan cetak. Tuntutan ini muncul sejalan semakin besarnya kemungkinan integrasi media di satu pintu teknologi apakah gadget atau televisi.

Namun demikian perkembangan teknologi ini tidak lain merupakan pendukung dari profesi di dunia jurnalisme. Pola aktivitas jurnalisme masih tetap sama mulai dari mengumpulkan data empirik di lapangan, menyusunnya sesuai formula out put media dan kemudian menayangkannya. Radio berbeda cara penyajiannya dengan televisi demikian juga berbeda untuk online dan media cetak.

Buku berjudul Advanced Reporting: Essential Skills for 21st Century Journalism menarik untuk disimak. Buku terbitan 2015 karya Miles Maguire ini mengkaji secara tajam bagaimana pola kerja jurnalistik ini meskipun kemajuan teknologi masih memiliki keajegan.

Maguire memformulasikannya dalam tiga tahap yang disebutnya connecting DOT (menyambungkan DOT – titik). DOT ini merupakan singkatan yang disebut Maguire sebagai tools dalam kerja jurnalistik. D adalah documents yang berarti rangkaian dokumen merupakan tulang punggung dari sebuah laporan jurnalistik. Dokumen ini bisa dalam berbagai bentuk apakah laporan rutin dari institusi di masyarakat dan pemerintahan sampai dengan hasil audit yang rahasia. Semua cerita bisa berasal dari sebuah atau lebih dokumen. Mereka yang menguasai dokumen, memiliki keunggulan dalam bercerita.

O merupakan singkatan dari observation (pengamatan). Reporter yang maju akan mengumpulkan kisahnya dalam bentuk observasi yang bisa berupa laporan saksi mata, kunjungan ke tempat kejadian perkara yang diteruskan dengan investigasi lanjutan. Kekuatan observasi dari reporter di lapangan sangat diperlukan karena dari sinilah reporter bisa membuat laporan besar. Bahkan jika kemampuan observasi ini sudah kuat akan menjadi semacam intuisi dimana reporter bisa mengendus berita besar dari kunjungan ke lapangan atau berbincang dengan berbagai nara sumber.

Proses connecting DOT terakhir adalah T yang disebut Maguire sebagai TALK. Reporter disebutnya akan mengajukan banyak pertanyaan dengan berbagai cara dan latar belakang yang berbeda. TALK ini bisa dilakukan misalnya ketika terjadi keterangan pers dari nara sumber atau melakukan perbincangan langsung empat mata dengan narasumber. Penggalian keterangan ini bisa lahirkan kisah yang lengkap akurat. Semakin jauh upaya reporter melakukan verifikasi kepada sumber peristiwa atau kepada dokumen akan semakin lemah kekuatan laporannya.

Tentu saja proses itu tidak berjalan secara kronologis. Ada fleksibilitas dari proses reportase, tergantung situasi di lapangan. Intinya dengan cara-cara seperti itu, seorang reporter yang sudah mahir akan mendapatkan kelebihan dalam menyampaikan laporannya kepada publik. ***

“Obor Rakyat” dan Kebangsaan

 

Oleh: Atmakusumah

KOMPAS.com – Ketika Rancangan Undang-Undang Pers yang berlaku sekarang dibahas di Komisi I DPR pada awal masa Reformasi, seorang anggota DPR mengatakan bahwa hak hukum warga tidak dapat dibatasi.

Artinya, setiap warga yang merasa dirugikan atau nama baiknya dicemarkan oleh pemberitaan pers dapat menempuh jalur hukum meski tersedia jalur-jalur lain yang lebih praktis, yaitu menggunakan hak jawab dan mediasi oleh Dewan Pers. Malahan, warga atau kelompok masyarakat masih tetap dapat menempuh jalur hukum sekalipun sudah melaksanakan hak jawab dan memperoleh jasa baik Dewan Pers sebagai mediator. Para anggota DPR rupanya tak ingin membatasi peluang bagi publik dalam upaya menyelesaikan konflik dengan pers akibat pemberitaan.

Penegasan ini diberikan kepada para pendukung kebebasan pers yang menjadi narasumber pemerintah. Mereka diminta Menteri Penerangan Muhammad Yunus Yosfiah untuk mendampingi para perancang UU No 40/1999 tentang Pers dari Departemen Penerangan dalam pembahasan bersama para anggota DPR pada pertengahan 1999. UU ini disetujui DPR pada 13 September tahun itu dan ditandatangani Presiden BJ Habibie sebagai pengesahan 10 hari kemudian, 23 September 1999. Pembicaraan dalam sidang Komisi I DPR itu saya ungkapkan sekarang dalam kaitan penerbitan dan peredaran selebaran Obor Rakyat menjelang Pemilu Presiden 9 Juli 2014.

Seandainya Obor Rakyat diakui sebagai media pers sekalipun, pihak yang dirugikan dan nama baiknya dicemarkan oleh tulisan-tulisannya dapat menempuh jalur hukum. Bahkan, apabila selebaran ini dipandang sebagai media pers, para pengelola Obor Rakyat dapat terkena sanksi moral yang berat jika benar kekeliruan isi laporan yang disiarkan sudah mereka ketahui sebagai informasi bohong atau fiktif sebelum dimuat dalam media ini. Menyiarkan berita bohong sebagai kebenaran merupakan satu dari empat pelanggaran Kode Etik Jurnalistik paling berat karena wartawan yang bertanggung jawab atas penyiaran laporan fiktif itu harus melepaskan profesi kewartawanan selama-lamanya. Mereka harus secara seketika diberhentikan dari perusahaan pers tempatnya bekerja dan dari organisasi wartawan jika menjadi anggota.

Tiga pelanggaran berat etika pers lainnya adalah melakukan plagiat dengan mencontek karya jurnalistik media lain, menerima suap sehingga bentuk pemberitaannya mengikuti keinginan pemberi suap, serta mengungkapkan narasumber anonim yang konfidensial atau dirahasiakan dan mengakibatkan narasumber itu atau keluarganya terancam jiwanya.

Akan tetapi, isi selebaran Obor Rakyat tentang calon presiden Joko Widodo bukan sekadar menyangkut masalah pencemaran nama baik atau penistaan. Pada hemat saya, persoalan penerbitan ini tidak sesederhana itu. Uraian dalam tulisan-tulisan Obor Rakyat yang bernuansa anti-Tionghoa dan anti-non-Muslim menyangkut persoalan kebangsaan yang dibangun oleh para pejuang kemerdekaan kita sejak jauh sebelum Indonesia merdeka, yaitu bahwa kita dipersatukan tanpa memperbedakan asal-usul suku dan ras serta agama dan kepercayaan.

Propaganda politik

Dalam situasi seperti sekarang ini di Indonesia, yang sedang memilah-milah sosok capres, adalah lazim jika kehidupan kita diramaikan oleh gencarnya kampanye propaganda politik tentang para calon pemimpin negara itu. Akan tetapi, kita tentulah berharap bahwa propaganda itu tidak menyimpang dari kejujuran mengungkapkan fakta-fakta yang benar. Kampanye propaganda politik di Indonesia dewasa ini, memang, tidak separah peristiwa yang pernah dialami di beberapa negara lain. Akan tetapi, sebaiknya tetap direnungkan akibat-akibat yang pernah mengusik martabat kelompok masyarakat yang menjadi sasaran propaganda itu.

Pada abad ke-20, kita menyaksikan sejumlah kampanye propaganda politik  melalui media komunikasi massa, termasuk media pers, yang menimbulkan akibat sangat buruk terhadap citra kebangsaan di negara-negara itu. Kampanye itu dilakukan antara lain oleh pemimpin Nazi di Jerman, Adolf Hitler; Presiden Slobodan Milosevic di Yugoslavia; dan para pemimpin suku Hutu di Rwanda.

Kampanye propaganda yang dijalankan oleh Milosevic menggunakan teknik Hitler di Jerman dan di negara-negara yang didudukinya—untuk ”menghabiskan” kaum Yahudi—menjelang dan selama Perang Dunia Kedua. Milosevic adalah Presiden Republik Federal Yugoslavia yang telah terpecah-pecah, dan waktu itu tinggal terdiri dari Serbia dan Montenegro.

Kasus Yugoslavia dan Rwanda

Seperti Hitler, Milosevic berupaya mengendalikan media siaran pada 1986 sampai 1991.  Ia menggunakan media siaran di Serbia untuk menciptakan suasana rasa takut dan kebencian penduduk Serbia terhadap warga Bosnia dengan menyebutkan pesan palsu dan dilebih-lebihkan—seolah-olah kaum Muslim Bosnia dan warga Kroasia telah menyerang orang-orang Serbia. Kelebihan penggunaan media massa oleh Milosevic adalah pemanfaatan siaran televisi—yang belum berkembang pada masa kekuasaan Hitler.

Milosevic diadili oleh Mahkamah Kejahatan Internasional bagi Bekas Yugoslavia (International Criminal Tribunal for the Former Yugoslavia) pada Februari 2002 di Den Haag, Belanda. Namun, ia tidak sempat mendapat vonis dari mahkamah yang dibentuk oleh PBB itu karena mendapat serangan jantung dan meninggal pada 11 Maret 2006 di dalam penjara.

Kampanye propaganda anti-suku Tutsi melalui media komunikasi massa di Rwanda, Afrika, sama parahnya dan mengakibatkan banyak korban tewas.

Stasiun Radio Television Libre des Mille Collines (RTLMC), yang siarannya berbahasa setempat dan dalam bahasa Perancis, digunakan para pengelolanya untuk mendukung kampanye para pemimpin suku Hutu pada 1994—yang mengakibatkan tindakan genosida terhadap suku Tutsi. RTLMC adalah singkatan nama dalam bahasa Perancis, yaitu Radio dan Televisi Bebas Seribu Bukit. “Ranah Seribu Bukit” adalah julukan untuk Rwanda.

Kampanye propaganda untuk menindas suku Tutsi juga dilakukan oleh majalah dwi-mingguan Kangura menjelang peristiwa genosida. Berita sensasional itu tersebar dari mulut ke mulut, terutama di kalangan warga buta aksara, atau majalah itu dibaca dalam pertemuan-pertemuan.

Propaganda kedua media massa itu diarahkan kepada pengembangan suatu negara yang bangsanya diharapkan “murni suku Hutu”. Jadi, serupa dengan mimpi Hitler bahwa Jerman harus didominasi oleh “keturunan berdarah Arya, ras unggul yang harus dimurnikan dari ras-ras lain yang derajatnya di bawah Arya”.

Setelah konflik di Rwanda berakhir dan pemerintah pendukung suku Hutu dikalahkan, PBB membentuk Mahkamah Kejahatan Internasional bagi Rwanda (International Criminal Tribunal for Rwanda) untuk mengadili kalangan yang terlibat genosida, termasuk para pengelola stasiun radio dan televisi RTLMC serta majalah Kangura. Sidang mahkamah itu tahun 2000 di Arusha, Tanzania, menjatuhkan hukuman 12 tahun penjara untuk Georges Ruggiu, wartawan dan penyiar RTLMC, karena siaran-siarannya menghasut untuk melakukan tindakan kekerasan yang mengarah ke genosida bagi suku Tutsi. Ia warga keturunan Italia-Belgia, satu-satunya penduduk bukan warga Rwanda yang dituduh terlibat.

Pada Desember 2003, sidang mahkamah itu menetapkan vonis hukuman penjara seumur hidup bagi Hassan Ngeze, pendiri dan pemimpin redaksi majalah dwi-mingguan Kangura. Ia juga turut memimpin Koalisi untuk Pertahanan Republik (Coalition for the Defense of the Republic/CDR), partai politik fasis Rwanda yang membantu menghasut genosida. Juga hukuman penjara seumur hidup bagi Ferdinand Nahimana, pendiri RTLMC. Walaupun hanya seorang pendiri, ia dipersalahkan telah membiarkan wartawan dan penyiar stasiun radio dan televisi itu untuk melancarkan siaran-siaran yang menghasut  tindakan kekerasan yang mengarah ke genosida suku Tutsi. Hukuman 35 tahun penjara dijatuhkan bagi Jean-Bosco Barayagwiza, diplomat Rwanda dan Ketua Komite Eksekutif RTLMC.

Ketiga terhukum itu naik banding. Putusan November 2007 mengurangi masa hukuman mereka menjadi 35 tahun, 30 tahun, dan 32 tahun. Mereka dinyatakan bersalah telah menghasut dan menjalankan tindakan genosida serta melakukan kejahatan terhadap perikemanusiaan sebelum dan selama masa peristiwa genosida 1994. Seorang penyiar perempuan dari stasiun RTLMC, Valerie Bemeriki, juga dijatuhi hukuman penjara seumur hidup oleh pengadilan berbeda di Rwanda pada Desember 2009. Ia dipersalahkan telah menghasut dalam siaran-siarannya untuk melakukan tindakan genosida.

Pemaksaan tujuan politik seperti terjadi di ketiga negara lewat kampanye propaganda politik—termasuk melalui media komunikasi massa—telah mengakibatkan situasi yang demikian parah. Kita berharap bahwa penggunaan selebaran dan terbitan buku, akhir-akhir ini sebagai bagian dari propaganda politik dalam kampanye pemilihan umum presiden di Indonesia, tidak berlanjut lebih parah.

Atmakusumah
Pengamat Pers; Pengajar Lembaga Pers Dr Soetomo

Sumber: Kompas 3 Juli 2014

News Values

WHAT MAKES A STORY NEWSWORTHY?
As well as the definitions of news that we looked at earlier, a simple guide
as to what makes a story newsworthy follows. A story is newsworthy if it is:
• something that affects a lot of people – new legislation, political or
social issues, jumbo jet crash, for example
• bad (or hard) news – accidents, such as plane and rail crashes, terrorist
attacks and so on
• of human interest – elderly pensioner leaves care home for mansion
after winning the Lottery or brave toddler undergoes heart and lung
transplant would fall into this category
• topical – contains a ‘today’ line
• informative – informs the reader of something new
• unexpected – lightning strikes York Minster, fire breaks out at Windsor
Castle, death of the Princess of Wales and so on
• something that deals with a subject that is currently in vogue – such as
road rage, hospital bugs
• a local or national disgrace – town councillor spotted in brothel, MP in
drugs scandal, say
• of general interest – that is, interesting to the widest possible audience
• something that involves celebrity – the Beckhams’ private lives, Liam
Gallagher’s love life, a soap star’s collagen lip injections and similar

• geographically appropriate to the receiver – stories from Aberdeen,
Derby and Reigate are of less interest to readers in Yorkshire, for
instance, than those from Harrogate, Leeds and Wakefield
• dramatic – life-saving rescues, medical breakthroughs and so on
feature here
• campaigning – examples here would be save our schools, don’t close
our cottage hospital
• superlative – man grows tallest sunflower in Britain, I’ve got the first
ever … longest … smallest … and other such stories
• sexy – Big Brother housemate caught in secret romp with Page 3 girl,
for example
• seasonal – it’s nearly Christmas so let’s look at the odds of snow or it’s
Easter, so let’s do something about chocolate or it’s summer – is there
a drought?
• amazing – 110-year-old great-grandfather still swims 20 lengths every
day in local pool, woman, aged 100, still working as a volunteer at
the soup kitchen she joined as a 17-year-old, psychiatric nurse writes
bestseller and so on
• an anniversary – for example, the world’s first test tube baby is 25
today or it’s exactly five years since the prime minister came to power
• quiet – there’s not much happening, so we’ll use that story about the
dead donkey.

Sumber:

NEWSPAPER JOURNALISM:A PRACTICAL INTRODUCTION
SUSAN PAPE & SUE FEATHERSTONE, 2005, London, Sage Puclication

Apa yang disebut jurnalisme?

Produser yang handal merupakan jurnalis berkualitas tinggi. Mereka berpikir seperti seorang wartawan. Mereka memahami bagaimana mengikuti berita harian yang merupakan bagian dari perannya  sebagai produser dan sebagai wartawan. Jika kita baru dalam dunia kewartawanan masih ada beberapa langkah menuju ke arah sana.

Untuk menjadi produser yang handal kita harus memahami apa yang disebut jurnalisme. Lalu apa yang disebut jurnalisme itu sendiri? Kita tahu bahwa audiens ingin menyaksikan program berita pertama-tama untuk mengetahui berita. Mereka menonton dengan sejumlah alasan seperti melihat ramalan cuaca namun terutama mereka ingin mengetahui peristiwa hari ini. Oleh karena itu sebagai seorang produser perlu mengetahui definisi yang jelas mengenai berita dan jurnalisme.

Banyak pengertian soal jurnalisme ini. Jurnalisme dimulai dengan pencarian fakta untuk dilaporkan. Sebagai seorang produser berita kita harus mampu merangkai fakta dan menyusun laporan.

Namun demikian jurnalisme tidak hanya sekedar mengumpulkan informasi, jurnalisme juga menyangkut penulisan naskah dan editing. Oleh sebab itu definisi sederhana dari jurnalisme adalah “melaporkan, menulis dan mengedit berita untuk diterbitkan atau disiarkan”.

Namun demikian seorang jurnalis yang hebat tidak hanya sekedar mengumpulkan fakta-fakta dan menyiarkannya. Sebagai produser kita harus menceritakan kepada pemirsa televisi mengapa satu berita ini penting dan bagaimana mempengaruhi kehidupan mereka. Karena kita seorang jurnalis maka kita harus meletakkan konteks, perspektif dan latar belakang dalam menyampaikan laporan, menulis naskah dan melakukan editing. 

Mengembangkan diri sebagai jurnalis

Kita memerlukan pengembangan diri untuk menjadi seorang jurnalis dengan sejumlah karakter sbb:

1. News junkie (suka kepada berita)
Pertama-tama seorang produser yang handal haruslah seseorang yang menyukai berita. Mereka merasa lapar dan bersemangat untuk mengikuti berita. Berita adalah aliran darahnya. Newsroom yang terbaik adalah dipenuhi dengan news junkie ini. Ketika terjadi breaking news mereka ingin menjadi yang pertama memberitakannya. Mereka juga mengamati stasiun televisi lain cara memberitakan breaking news. Mereka ingin tahu gambar yang terbagus dan informasi yang paling akurat. Mereka merupakan orang-orang yang berdaya saing tinggi.

2. General knowledge (Pengetahuan umum)
Sikap lainnya yang dimiliki jurnalis dan produser handal adalah mereka memiliki pengetahuan umum dan informasi tentang dunia serta bagaimana bergerak. Bagaimana kita tahu sesuatu informasi ini penting? Dimana akan ditempatkan dalam rundown? Apakah kita memiliki latar belakangnya untuk disampaikan kepada pemirsa? Inilah alasan mengapa kita harus memiliki pengetahuan sebanyak mungkin.

3. Knowledge challenge
Jika kita tidak memiliki pengetahuan dasar maka kita akan menghadapi kesalakan yang serius dalam menentukan berita mana yang penting. Keputusan memilih berita yang buruk dan kelalaian akan menyebabkan lunturnya kepercayaan newsroom dan manajer kepada kita. Lebih buruk lagi jika kita membiarkan berita yang salah mengudara maka kredibilitas stasiun televisi menjadi taruhannya. Jika pemirsa tidak percaya lagi kepada berita yang kita siarkan maka mereka tidak akan menoleh lagi kepada stasiun kita.

4. Jeopardy (berpengetahuan luas dan serba tahu)
Jeopardy merupakan game televisi yang populer di Amerika Serikat soal quiz berbagai topik seperti sejarah, seni budaya, sains, olahraga dan geografi. Bayangkan Anda menjadi salah satu kontestannya yang akan menghadapi pertanyaan dengan berbagai topik. Kita bukanlah ahli namun kita harus tahu banyak. Produser biasa disebut tahu “satu mil lebar dan satu inci dalamnya” mengenai sesuatu informasi.

Lalu bagaimana memperoleh pengetahuan yang luas ini. Resepnya: membaca, membaca dan membaca. Bacalah semua jenis majalah, buku, surat kabar dan situs internet. Membaca setiap hari akan membuat kita berwawasan mengenai isu-isu dalam berita hangat masa kini. 

Bagaimana power producer tetap berwawasan
Berusaha untuk mengetahui apa yang terjadi di dunia merupakan pekerjaan berat kecuali kita benar-benar peduli akan berita.
Pada awal karir sebagai produser kita akan dipaksa mengikuti berita-berita utama. Oleh karena itu begitu kita memahami betapa pentingnya peduli akan berita dalam pekerjaan kita maka kita ingin mengetahui terus menerus perkembangan berita.
Agar kita tetap berwawasan maka bacalah surat kabar setiap hari termasuk surat kabar utama. Demikian juga bacalah majalah berita mingguan atau bulanan. Internet merupakan salah satu sumber utama mengetahui berita yang dimuat surat kabar, jaringan televisi dan kantor berita. Jangan lupa mengikuti perkembangan berita dari radio.
Bagaimana sistem berjalan
Tidaklah cukup kita peduli dan terus menerus perkembangan berita dan ilmu pengetahuan. Kita juga perlu mengetahui bagaimana proses sebuah sistem berjalan karena diperlukan saat menulis dan mengedit naskah. Kita perlu memahami bidang seperti kesehatan, bisnis, ekonomi, pendidikan dan seni-budaya. Kita perlu juga mengetahui sistem hukum kita serta sistem politik dan pemerintah. Bidang inilah yang merupakan sumber berita besar. Memang sistem tersebut kadang kompleks namun sebagai produser harus mengetahuinya.
Berita sebagai sebuah proses
Sebagian besar berita mengikuti sejumlah perkembangan, langkah-langkah dan tahapannya. Berita mengikuti proses berkelanjutan. Kita harus mengetahui tahapannya dari sebuah berita.
Produser yang handal mengetahui sebuah informasi terkait dengan berita yang sedang berkembang.
Seorang produser juga akan berusaha untuk datang ke perpustakaan atau mencari informasi dari internet untuk menjawab sejumlah kepenasaran.
Produser sebagai seorang reporter
Selain mengetahui bagaimana proses sebuah sistem kemasyarakatan seorang produser handal memiliki pengalaman dasar membuat laporan. Mereka mengetahui bagaimana mengumpulkan informasi mentah sebuah berita dan kemudian merangkaikannya dalam sebuah program berita. Produser handal berpikir dan bekerja seperti seorang reporter.
Mengapa kemampuan membuat laporan penting? Kita memerlukan kemampuan itu untuk menambah kedalaman dan konteks dari sebuah berita. Namun dalam kesempatan lain kita harus membuat sebuah berita asli dari lapangan. Misalnya ketika kita mengetahui ada breaking news yang potensial maka kita akan menghubungi sejumlah sumber untuk memeriksa kebenaran berita itu.
Karena produser handal juga seorang reporter maka perlu mengetahui nara sumber berita. Membangun nara sumber berarti kita tidak tergantung kepada orang lain di newsroom.
Mendapatkan pengetahuan umum memerlukan waktu dan dedikasi. Oleh karena itu putuskan untuk menyisihkan waktu dan mendedikasikan diri guna mengumpulkan informasi ini.
Sumber: Power Producer by Dow Smith(2002)

Dapatkan Jurnalistik Praktis

Gambar
Dapatkan dengan membeli online di Leutikaprio.com
ISBN: 978-602-225-402-7
Terbit: Mei 2012
Halaman : 125, BW : 125, Warna : 0
Harga: Rp. 31.300,00
Deskripsi:

Jika Anda memutuskan memasuki dunia jurnalistik apakah sebagai wartawan bidang media cetak atau elektronik, segera ambil langkah itu. Jangan menunggu sampai habis umur kita memikirkannya. Putuskan sesegera mungkin ! Dan bertindaklah ! Jika Anda ragu, bertanyalah mengenai prospek di bidang ini kepada sahabat, rekan atau orang yang bisa diminta pertimbangkan. Setelah mengambi keputusan, tuliskanlah ! Tuliskan keputusan itu diatas sehelai kertas atau di sebuah file atau di sebuah blog. Tuliskan dengan rinci tujuan Anda dalam karir itu. Tidak menuliskan secara eksplisit untuk keperluan Anda sendiri, maka keputusan itu tidak lain adalah harapan kosong. Menjadi wartawan bisa menjadi pilihan hidup. Namun dibalik itu terbentang kesempatan untuk bertemu berbagai jenis manusia mulai dari seorang pemulung sampai seorang presiden. Profesi wartawan bisa membawa Anda juga berkeliling Indonesia. Dan yang tentu banyak diimpikan, profesi ini bisa mengajak Anda berkeliling dunia !
Buku ini menjelaskan motif Anda untuk menjadi seorang jurnalis handal, apa saja syaratnya dan kemampuan apa yang dikehendaki. Dalam buku ini Anda akan menemukan kejadian seperti apa yang disebut berita dan apa pula yang disebut fakta bernilai berita. Lalu bagaimana wawancara yang dilakukan seorang wartawan dan bagaimana pula liputan di lapangan yang akan dijalani seorang jurnalis. Lebih dari itu buku ini menjelaskan tips-tips praktis ketika Anda sudah terjun di dunia jurnalistik. Tips ini bisa juga memotivasi mereka yang mau terjun ke dunia media massa.

Peran Baru Jurnalis Profesional

Dengan berkembangnya citizen journalism atau jurnalisme warga, berita sekarang dapat dibuat oleh siapapun. Pegiat jurnalistik tidak terbatas pada mereka yang bekerja di bidang jurnalistik tetapi sudah melibatkan hampir semua orang. Akses terhadap teknologi informasi yang semakin luas membuat kesempatan semakin besar bagi banyak orang untuk menjadi jurnalis dadakan. Kadang-kadang laporan mereka cepat karena hadir di tempat kejadian. Dengan telepon pintar di tangan mereka bisa menulis di Twitter atau Facebook untuk berita langsung terjadi. Lalu mereka bisa menulis juga di sebuah blog.

Perkembangan inilah yang menyebabkan tumbuh istilah yang disebut pro-summer atau producer-consumer. Setiap orang terbuka peluang menjadi produser berita dan sekaligus sebagai konsumen informasi yang disediakan media massa.

Salah satu konsekuensi perkembangan ini maka jurnalis tidak hanya sebagai gate-keeper atau penjaga gawang lalu lintas informasi saja. Peran mereka bertambah yakni sebagai authenticator dan contextualizer.

Pertama, sebagai authenticator kalangan jurnalis profesional ini berperan membantu masyarakat pengguna informasi untuk menyeleksi banjir informasi. Jurnalis juga akan memberikan identifikasi mana berita yang dapat dipercaya, kredibel dan dapat diyakini kebenarannya serta akurasinya.

Kedua, sebagai contextualizer peran jurnalis adalah menyediakan laporan lebih dalam lagi sehingga audiens dapat mengetahui apa artinya informasi yang diterimanya itu, mengaitkannya dengan kehidupan mereka sehingga bisa memanfaatkan informasi itu untuk digunakan apakah dalam pengambilan keputusan atau langkah-langkah kehidupan mereka dalam jangka pendek atau panjang.

Dengan kata lain jurnalis profesional akan menyusun serpihan informasi yang banyak dalam satu kesatuan dan menyampaikannya kepada audiens dalam satu cerita. Kemudian juga jurnalis profesional ini memiliki peran dalam mengungkapkan sesuatu yang selama ini masih rahasia atau misteri.

Peran yang menonjol dari sekedar gate keeper menjadi authenticator dan contextualizer ini akan membuka peluang baru serta model baru dalam pemberitaan dan pembuatan feature baik format jurnalistik cetak, audio, televisi dan bahkan online. (Asep Setiawan)
Sumber: asepsetiawan.com