“Obor Rakyat” dan Kebangsaan

 

Oleh: Atmakusumah

KOMPAS.com – Ketika Rancangan Undang-Undang Pers yang berlaku sekarang dibahas di Komisi I DPR pada awal masa Reformasi, seorang anggota DPR mengatakan bahwa hak hukum warga tidak dapat dibatasi.

Artinya, setiap warga yang merasa dirugikan atau nama baiknya dicemarkan oleh pemberitaan pers dapat menempuh jalur hukum meski tersedia jalur-jalur lain yang lebih praktis, yaitu menggunakan hak jawab dan mediasi oleh Dewan Pers. Malahan, warga atau kelompok masyarakat masih tetap dapat menempuh jalur hukum sekalipun sudah melaksanakan hak jawab dan memperoleh jasa baik Dewan Pers sebagai mediator. Para anggota DPR rupanya tak ingin membatasi peluang bagi publik dalam upaya menyelesaikan konflik dengan pers akibat pemberitaan.

Penegasan ini diberikan kepada para pendukung kebebasan pers yang menjadi narasumber pemerintah. Mereka diminta Menteri Penerangan Muhammad Yunus Yosfiah untuk mendampingi para perancang UU No 40/1999 tentang Pers dari Departemen Penerangan dalam pembahasan bersama para anggota DPR pada pertengahan 1999. UU ini disetujui DPR pada 13 September tahun itu dan ditandatangani Presiden BJ Habibie sebagai pengesahan 10 hari kemudian, 23 September 1999. Pembicaraan dalam sidang Komisi I DPR itu saya ungkapkan sekarang dalam kaitan penerbitan dan peredaran selebaran Obor Rakyat menjelang Pemilu Presiden 9 Juli 2014.

Seandainya Obor Rakyat diakui sebagai media pers sekalipun, pihak yang dirugikan dan nama baiknya dicemarkan oleh tulisan-tulisannya dapat menempuh jalur hukum. Bahkan, apabila selebaran ini dipandang sebagai media pers, para pengelola Obor Rakyat dapat terkena sanksi moral yang berat jika benar kekeliruan isi laporan yang disiarkan sudah mereka ketahui sebagai informasi bohong atau fiktif sebelum dimuat dalam media ini. Menyiarkan berita bohong sebagai kebenaran merupakan satu dari empat pelanggaran Kode Etik Jurnalistik paling berat karena wartawan yang bertanggung jawab atas penyiaran laporan fiktif itu harus melepaskan profesi kewartawanan selama-lamanya. Mereka harus secara seketika diberhentikan dari perusahaan pers tempatnya bekerja dan dari organisasi wartawan jika menjadi anggota.

Tiga pelanggaran berat etika pers lainnya adalah melakukan plagiat dengan mencontek karya jurnalistik media lain, menerima suap sehingga bentuk pemberitaannya mengikuti keinginan pemberi suap, serta mengungkapkan narasumber anonim yang konfidensial atau dirahasiakan dan mengakibatkan narasumber itu atau keluarganya terancam jiwanya.

Akan tetapi, isi selebaran Obor Rakyat tentang calon presiden Joko Widodo bukan sekadar menyangkut masalah pencemaran nama baik atau penistaan. Pada hemat saya, persoalan penerbitan ini tidak sesederhana itu. Uraian dalam tulisan-tulisan Obor Rakyat yang bernuansa anti-Tionghoa dan anti-non-Muslim menyangkut persoalan kebangsaan yang dibangun oleh para pejuang kemerdekaan kita sejak jauh sebelum Indonesia merdeka, yaitu bahwa kita dipersatukan tanpa memperbedakan asal-usul suku dan ras serta agama dan kepercayaan.

Propaganda politik

Dalam situasi seperti sekarang ini di Indonesia, yang sedang memilah-milah sosok capres, adalah lazim jika kehidupan kita diramaikan oleh gencarnya kampanye propaganda politik tentang para calon pemimpin negara itu. Akan tetapi, kita tentulah berharap bahwa propaganda itu tidak menyimpang dari kejujuran mengungkapkan fakta-fakta yang benar. Kampanye propaganda politik di Indonesia dewasa ini, memang, tidak separah peristiwa yang pernah dialami di beberapa negara lain. Akan tetapi, sebaiknya tetap direnungkan akibat-akibat yang pernah mengusik martabat kelompok masyarakat yang menjadi sasaran propaganda itu.

Pada abad ke-20, kita menyaksikan sejumlah kampanye propaganda politik  melalui media komunikasi massa, termasuk media pers, yang menimbulkan akibat sangat buruk terhadap citra kebangsaan di negara-negara itu. Kampanye itu dilakukan antara lain oleh pemimpin Nazi di Jerman, Adolf Hitler; Presiden Slobodan Milosevic di Yugoslavia; dan para pemimpin suku Hutu di Rwanda.

Kampanye propaganda yang dijalankan oleh Milosevic menggunakan teknik Hitler di Jerman dan di negara-negara yang didudukinya—untuk ”menghabiskan” kaum Yahudi—menjelang dan selama Perang Dunia Kedua. Milosevic adalah Presiden Republik Federal Yugoslavia yang telah terpecah-pecah, dan waktu itu tinggal terdiri dari Serbia dan Montenegro.

Kasus Yugoslavia dan Rwanda

Seperti Hitler, Milosevic berupaya mengendalikan media siaran pada 1986 sampai 1991.  Ia menggunakan media siaran di Serbia untuk menciptakan suasana rasa takut dan kebencian penduduk Serbia terhadap warga Bosnia dengan menyebutkan pesan palsu dan dilebih-lebihkan—seolah-olah kaum Muslim Bosnia dan warga Kroasia telah menyerang orang-orang Serbia. Kelebihan penggunaan media massa oleh Milosevic adalah pemanfaatan siaran televisi—yang belum berkembang pada masa kekuasaan Hitler.

Milosevic diadili oleh Mahkamah Kejahatan Internasional bagi Bekas Yugoslavia (International Criminal Tribunal for the Former Yugoslavia) pada Februari 2002 di Den Haag, Belanda. Namun, ia tidak sempat mendapat vonis dari mahkamah yang dibentuk oleh PBB itu karena mendapat serangan jantung dan meninggal pada 11 Maret 2006 di dalam penjara.

Kampanye propaganda anti-suku Tutsi melalui media komunikasi massa di Rwanda, Afrika, sama parahnya dan mengakibatkan banyak korban tewas.

Stasiun Radio Television Libre des Mille Collines (RTLMC), yang siarannya berbahasa setempat dan dalam bahasa Perancis, digunakan para pengelolanya untuk mendukung kampanye para pemimpin suku Hutu pada 1994—yang mengakibatkan tindakan genosida terhadap suku Tutsi. RTLMC adalah singkatan nama dalam bahasa Perancis, yaitu Radio dan Televisi Bebas Seribu Bukit. “Ranah Seribu Bukit” adalah julukan untuk Rwanda.

Kampanye propaganda untuk menindas suku Tutsi juga dilakukan oleh majalah dwi-mingguan Kangura menjelang peristiwa genosida. Berita sensasional itu tersebar dari mulut ke mulut, terutama di kalangan warga buta aksara, atau majalah itu dibaca dalam pertemuan-pertemuan.

Propaganda kedua media massa itu diarahkan kepada pengembangan suatu negara yang bangsanya diharapkan “murni suku Hutu”. Jadi, serupa dengan mimpi Hitler bahwa Jerman harus didominasi oleh “keturunan berdarah Arya, ras unggul yang harus dimurnikan dari ras-ras lain yang derajatnya di bawah Arya”.

Setelah konflik di Rwanda berakhir dan pemerintah pendukung suku Hutu dikalahkan, PBB membentuk Mahkamah Kejahatan Internasional bagi Rwanda (International Criminal Tribunal for Rwanda) untuk mengadili kalangan yang terlibat genosida, termasuk para pengelola stasiun radio dan televisi RTLMC serta majalah Kangura. Sidang mahkamah itu tahun 2000 di Arusha, Tanzania, menjatuhkan hukuman 12 tahun penjara untuk Georges Ruggiu, wartawan dan penyiar RTLMC, karena siaran-siarannya menghasut untuk melakukan tindakan kekerasan yang mengarah ke genosida bagi suku Tutsi. Ia warga keturunan Italia-Belgia, satu-satunya penduduk bukan warga Rwanda yang dituduh terlibat.

Pada Desember 2003, sidang mahkamah itu menetapkan vonis hukuman penjara seumur hidup bagi Hassan Ngeze, pendiri dan pemimpin redaksi majalah dwi-mingguan Kangura. Ia juga turut memimpin Koalisi untuk Pertahanan Republik (Coalition for the Defense of the Republic/CDR), partai politik fasis Rwanda yang membantu menghasut genosida. Juga hukuman penjara seumur hidup bagi Ferdinand Nahimana, pendiri RTLMC. Walaupun hanya seorang pendiri, ia dipersalahkan telah membiarkan wartawan dan penyiar stasiun radio dan televisi itu untuk melancarkan siaran-siaran yang menghasut  tindakan kekerasan yang mengarah ke genosida suku Tutsi. Hukuman 35 tahun penjara dijatuhkan bagi Jean-Bosco Barayagwiza, diplomat Rwanda dan Ketua Komite Eksekutif RTLMC.

Ketiga terhukum itu naik banding. Putusan November 2007 mengurangi masa hukuman mereka menjadi 35 tahun, 30 tahun, dan 32 tahun. Mereka dinyatakan bersalah telah menghasut dan menjalankan tindakan genosida serta melakukan kejahatan terhadap perikemanusiaan sebelum dan selama masa peristiwa genosida 1994. Seorang penyiar perempuan dari stasiun RTLMC, Valerie Bemeriki, juga dijatuhi hukuman penjara seumur hidup oleh pengadilan berbeda di Rwanda pada Desember 2009. Ia dipersalahkan telah menghasut dalam siaran-siarannya untuk melakukan tindakan genosida.

Pemaksaan tujuan politik seperti terjadi di ketiga negara lewat kampanye propaganda politik—termasuk melalui media komunikasi massa—telah mengakibatkan situasi yang demikian parah. Kita berharap bahwa penggunaan selebaran dan terbitan buku, akhir-akhir ini sebagai bagian dari propaganda politik dalam kampanye pemilihan umum presiden di Indonesia, tidak berlanjut lebih parah.

Atmakusumah
Pengamat Pers; Pengajar Lembaga Pers Dr Soetomo

Sumber: Kompas 3 Juli 2014

Iklan

Banyak peluang di MetroTV

Bagi Anda yang masih memiliki minat menjadi reporter, presenter dan produser terbuka peluang lebar di Metro TV. Dengan program journalist development programme setiap tahun, Metro TV menerima fresh graduate untuk dibina menjadi reporter handal. Training yang diberikan cukup untuk memulai Anda sebagai reporter dan tampil dilayar melaporkan perkembangan nasional.

Syaratnya sederhana saja, Anda memiliki kemajuan menjadi seorang jurnalis yang siap terjun ke lapangan, memiliki pengetahuan luas dan passion terhadap journalism.

Silahkan cek ke : http://career.metrotvnews.com/

News Values

WHAT MAKES A STORY NEWSWORTHY?
As well as the definitions of news that we looked at earlier, a simple guide
as to what makes a story newsworthy follows. A story is newsworthy if it is:
• something that affects a lot of people – new legislation, political or
social issues, jumbo jet crash, for example
• bad (or hard) news – accidents, such as plane and rail crashes, terrorist
attacks and so on
• of human interest – elderly pensioner leaves care home for mansion
after winning the Lottery or brave toddler undergoes heart and lung
transplant would fall into this category
• topical – contains a ‘today’ line
• informative – informs the reader of something new
• unexpected – lightning strikes York Minster, fire breaks out at Windsor
Castle, death of the Princess of Wales and so on
• something that deals with a subject that is currently in vogue – such as
road rage, hospital bugs
• a local or national disgrace – town councillor spotted in brothel, MP in
drugs scandal, say
• of general interest – that is, interesting to the widest possible audience
• something that involves celebrity – the Beckhams’ private lives, Liam
Gallagher’s love life, a soap star’s collagen lip injections and similar

• geographically appropriate to the receiver – stories from Aberdeen,
Derby and Reigate are of less interest to readers in Yorkshire, for
instance, than those from Harrogate, Leeds and Wakefield
• dramatic – life-saving rescues, medical breakthroughs and so on
feature here
• campaigning – examples here would be save our schools, don’t close
our cottage hospital
• superlative – man grows tallest sunflower in Britain, I’ve got the first
ever … longest … smallest … and other such stories
• sexy – Big Brother housemate caught in secret romp with Page 3 girl,
for example
• seasonal – it’s nearly Christmas so let’s look at the odds of snow or it’s
Easter, so let’s do something about chocolate or it’s summer – is there
a drought?
• amazing – 110-year-old great-grandfather still swims 20 lengths every
day in local pool, woman, aged 100, still working as a volunteer at
the soup kitchen she joined as a 17-year-old, psychiatric nurse writes
bestseller and so on
• an anniversary – for example, the world’s first test tube baby is 25
today or it’s exactly five years since the prime minister came to power
• quiet – there’s not much happening, so we’ll use that story about the
dead donkey.

Sumber:

NEWSPAPER JOURNALISM:A PRACTICAL INTRODUCTION
SUSAN PAPE & SUE FEATHERSTONE, 2005, London, Sage Puclication

Investigative Journalism Manual

We can define investigative journalism as:

  • An original, proactive process that digs deeply into an issue or topic of public interest
  • Producing new information or putting known information together to produce new insights
  • Multi-sourced, using more resources and demanding team-working and time
  • Revealing secrets or uncovering issues surrounded by silence
  • Looking beyond individuals at fault to the systems and processes that allow abuses to happen
  • Bearing witness, and investigating ideas as well as facts and events
  • Providing nuanced context and explaining not only what, but why
  • Not always about bad news, and not necessarily requiring undercover techniques – though it often is, and sometimes does.

An investigative reporter needs to have:

  • Curiosity
  • Passion
  • Initiative
  • Logical thinking, organisation and self-discipline
  • Flexibility
  • Good teamworking and communication skills
  • Well-developed reporting skills
  • Broad general knowledge and good research skills
  • Determination and patience
  • Fairness and strong ethics
  • Discretion
  • Citizenship
  • Courage

And finally

Finally, we have noted that though there are shared goals and common standards, there isn’t one, universal model for investigative reporting, and that to get the most out of studying case studies of other investigations, you need to think carefully about the similarities or differences in context between the case study and your own situation as a reporter.

Read more here

 

The State of the News Media 2012

Situs State of Media merupakan salah satu situs yang memantau perkembangan media di Amerika Serikat.

The State of the News Media 2012 is the ninth edition of our annual report on the status of American journalism.
This year’s study contains surveys examining how news consumers use social mediaand how mobile devices could change the news business and an update on the rapid changes in community news. And each industry sector chapter consists of two parts: a summary essay, which tells the story of that sector, and a data section, which presents a full range of statistics graphically rendered. The report is the work of thePew Research Center’s Project for Excellence in Journalism a nonpolitical, nonpartisan research institute funded by the Pew Charitable Trusts

Published March 19, 2012

http://stateofthemedia.org/

Writing Broadcast News

Five C’s pf Broadcast News Writing
Untuk menulis untuk telinga kita harus belajar dan mempraktekan lima C : Conversional, Clear, Concise, Compelling dan Cliche Free.
1. Conversional
Saat Anda menulis untuk siaran maka Anda menulis untuk telinga, untuk didengarkan. Audiens mendengar dan melihat berita dalam televisi maka televisi merupakan perangkat paling baik dalam menyampaikan informasi kepada publik. Namun kelemahannya pemirsa hanya memiliki satu kali kesempatan mengikuti berita. Ini berarti kita harus menggunakan bahasa percakapan karena dengan cara itu mereka terbiasa mendengarkan. Cara ini membantu mereka memahami berita dengan cepat.
Tulislah dengan cara orang berbicara. Pikirkan bagaimana kita merespon ketika seseorang bertanya mengenai apa yang terjadi hari ini. Kita tidak menjawab dengan berbicara soal peristiwa rutin. Kita memberitahukan apa yang yang paling penting dan menarik.
Oleh karena itu berilah pemirsa berita paling penting dulu. Dalam percakapan kita juga jarang menggunakan kalimat yang kompleks dengan anak kalimat. Janganlah hal ini dilakukan dalam siaran berita.
2. Clear
Batasi satu kalimat dengan satu ide. Cara ini mempermudah pemirsa untuk memagami sebuah gagasan. Saat kita menggunakan kata sambung “dan” atau koma maka kalimatnya akan menjadi kompleks. Dalam siaran letakkan atribusi dulu sebelum pertanyaan, subyek sebelum kata kerja. Sebuah kutipan tanpa atribusi mengesankan pendapat dari penyiar.
Contoh buruk: Ini adalah kasus penggelapan terbesar yang pernah saya saksikan
Contoh baik: Walikota mengatakan ini adalah kasus penggelapan terbesar yang pernah dilihatnya.
Hindari nama di kata pertama sebuah kalimat jika memungkinkan. Jika tidak ulanglah nama itu kemudian.
Jangan pula menuliskan terlalu banyak angka. Angka sulit untuk diikuti. Buatlah mereka mudah paham. Batasi satu kalimat satu angka dan jangan meletakkan angka pada kata pertama karena akan membingungkan.
Contoh buruk: Tiga belas orang tewas ketika kereta api anjlok dekat St Louis, namun 150 penumpang selamat dalam kecelakaan KA ke-10 tahun ini
Contoh baik: Kecelakaan kereta api dekat St Louis menewaskan 13 penumpang. Sedikitnya 150 penumnpang selamat darri musibah ini.
3. Concise
Gunakan kalimat singkat. Kalimat deklaratif merupakan jantung dari broadcasts news writing. Leakkan subjek di bagian pertama, disusul dengan kata kerja dan objek.
Tuliskan kalimat pendek. Riset mengungkapkan, kalimat pendek mudaih dipahami dan lebih kuat.
4. Compelling
Tuliskan kalimat aktif. Penulis berita menggunakan kalimat aktif dan lebih kuat daripada kalimat panjang.
Menulis kalimat aktif sulit dilakukan dengan baik namun ini merupakan ciri dari power producer.
Contoh buruk: Bola ditendang oleh John keluar lapangan.
Contoh baik : John menendang bola ke luar lapangan.
5. Clichee Free
Klise merupakan penyakit bagi berita televisi. Bahasa klise akan meracuni berita yang ditayangkan. Bahasa ini sering tidak tepat dan menyesatkan. Usahakan menghindari bahasa klise dalam penulisan naskah.
Kata-kata tak bermanfaat
Selain klise ada kategori kata-kata lainnya yang disebut “dumb words” atau kata-kata yang tidak bermanfaat yang sering digunakan produser, penulis naskah dan wartawan.
1. Allegedly (diduga/disangka): inilah klise yang tidak berguna dalam naskah siaran. Banyak penulis naskah siaran menggunakan kata “allegedly” karena mereka tidak mau melaporkan seseorang itu bersalah atas sebuah kejahatan.
2. Reportedly (dilaporkan): ini adalah kata lain yang banyak digunakan produser dan reporter karena terlalu malas mendapatkan informasi akurat dan atribusi yang jelas.
3. Apparently (tampaknya): kata-kata ini dengan dengan reportedly.
4. Undtermined (belum dipastikan): jika kita tidak tahu jangan menyembunyikan fakta.
5. Suspect (tersangka): kata ini sering disalahgunakan. Yang berarti polisi memiliki nama seseorang yang melakukan kejahatan. Kecuali kalau identitas jelas dan orang itu diketahui jangan gunakan kata “tersangka”.
6. Officials say (pejabat mengatakan): kita akan mengetahui siap yang mengatakan atau tidak sama sekali. Jangan kita tidak tahu sumbernya jangan menggunakan sumber yang mengambang.
7. Recent reports (laporan baru-baru ini) : kita mendengar berita merujuk kepada (laporan baru-baru ini). KAdang-kadang produser dan reporter menggunakan phrasa ini karen beritanya tidak baru dan mereka berusaha menyembunyikan fakta.
LEADS THAT SELL
Setia berita dalam buletin harus dimulai dengtan kalimat utama yang kuat. Lead yang paling efektif merujuk kepada beberapa unsur berita yang penting atau menarik bagi pemirsa, disebut juga “hook” (cantelan).
1.Put a “hook” in the lead
Kalimat utama dalam berita biasanya terkait dengan audiens, menghubungkan berita dengan mereka.
2. Avoid long leads
Hindari kalimat utama yang panjang. Sebagian besar surat kabar berusaha memasukkan semua informasi penting dalam berita. Dalam berita televisi kita tidak perlu meletakkan semua fakta dalam satu kalimat utama.
3. Keep the lead timely
Kelebihan dari berita televisi adalah waktu. Stasiun televisi biasanya beroperasi 24 jam.Jika peristiwa terjadi pagi maka bisa menjadi berita pada petangnya.
(to be continued)

Building the News Show

BASIC FRAMEWORK

Format
Program buletin harus diatur terpisah dengan iklan sehingga tidak banyak menganggu di satu segmen. Format juga bervariasi tergantung kepada durasi buletin dan waktu penayangannya. 

Rundown
Rundwon merupakan daftar berita yang diatur dengan sekuen yang logis yang dibuat dari satu sistem komputer redaksi. Rundown ini merupakan peta jalan dari berita dan produksi. Menjelang siaran, tim produser membagi tugas seperti penulisan naskah, mengatur prioritas editing tape dan grafik serta menentukan durasi setiap berita.


THE LEAD

Setiap rundwon memerlukan berita utama yang memberikan awal yang kuat dan menarik para pemirsa kepada program buletin. Tanpa berita utama yang kuat kita seperti memberitahukan pemirsa tidak ada sesuatu yang penting terjadi hari ini dan tidak ada alasan untuk tetap duduk menonton.

Dalam pengembangan rundown, memilih berita utama merupakan keputusan yang paling penting. Sebagai produser mungkin kita tidak menentukan keputusan final karena pemred atau direktur pemberitaan di banyak redaksi memiliki otoritas menentukan mana yang jadi berita utama.

Enterprising the lead
Salah satu cara bagaimana kita memiliki berita utama yang kuat adalah melalui perencanaan. Mengapa harus menunggu berita utama muncu tiba-tiba dari peristiwa harian? Enterprise reporting (liputan yang menyeluruh dan mendalam) dan perencanaan awal akan melahirkan berita utama yang kuat. Enterprise lead akan memberi audiens berita yang unik serta memiliki alasan agar mereka tetap menonton.

Intinya, jangan biarkan berita utama di tangan dewa berita. Jangan tunggu sampai pagi hari untuk mengembangkan berita utama yang potensial. Rencanakan berita utama seawal mungkin. Bekerja lebih awal akan membuat para reporter memiliki peluang mengembangkan angle yang berbeda dan memproduksi berita yang membuat liputannya dapat dikenang.

Mengembangkan lead
Banyak perdebatan mengenai konsep apa yang membuat bagus berita utama. Namun setiap orang setuju bahwa berita yang kuat menyebabkan banyak orang tersentuh emosio, intelektual dan kehidupannya. Biasanya disebut juga a water-cooler story, berita yang dibicarakan di tempat bekerja mereka.

Berita utama perlu dikembangkan secara hati-hati. Oleh sebab itulah mengapa power producer menghabiskan banyak waktunya untuk mengerjakan berita utama. Mereka ingin yakin semua elemen berita terliput dan mempersentasikan kepada pemirsa agar mudah dipahami mengapa ini berita utama.

Packaging the lead
Terdapat beberapa cara untuk membuat paket berita utama terlihat penting. Cara yang populer adalah liputan besar dan tim yang besar.Untuk membuat berita utama paket durasinya harus panjang. Buatlah berita utama lebih dari satu berita.Kembangkan berita lain untuk meletakkan berita utama dalam konteks atau menambah aspek kemanusiaan.

Tempatkan semua berita yang terkait berita utama dengan grafik seperti “Top Story” 

Cara yang biasa dilakukan untuk menjual berita utama adalah dengan laporan live reporter dari lokasi peristiwa.

Tipe lead lainnya
Kadang-kadang produser tidak memiliki berita yang kuat atau bahkan berita kuat yang tidak jelas. Bahkan mungkin pula memiliki apa yang disebut umbrella lead.

Masalah lainnya ketika produser memilih sebuah berita utama. Dulu pernah ada konvensi menahan berita utama sampai jam 18.00 namun sekarang tidak lagi terjadi. Namun demikian kita bisa menjaga kepentingan audiens dengan memilih berita utama yang berbeda. Misalnya setengah jam pertama dengan berita yang ditujukan kepada audiens spesifik. Setengah jam kemudian menyajikan berita dengan perlakuan berbeda.

THE OPEN
Buletin berita harus dimulai dengan berita sekuat mungkin. Tidak hanya buletin berita ini memerlukan berita utama yang kuat tetapi juga rekaman yang sudah diproduksi terlebih dahulu dan bahkan membuat reaser untuk menjangkau penonton sebanyak mungkin.

Opens don’t open
Pembukaan biasanya dengan menyebutkan nama presenter saja. Namun dengan membuka buletin dengan berita secepat mungkin akan memberi kesempatan untuk merangkul auidens lebih cepat.


Seamless breaks
Selama bertahun-tahun power producer belajar bahwa kita perlu untuk secepat mungkin masuk berita untuk mempertahankan audiens. Cara terbaik adalah dengan menghilangkan break. Ini berarti tidak iklan antara lead in dan lead out program dan buletin.


THEBLOCKS
Saat buletin berita yang mulai langkah berikutnya mengisi blok-blok di rundown. Blok ini antara berita dan iklan. Blok ini berisi berita mengenai olahraga, lalu lintas, internasional atau cuaca. Cara menamai blok bermancam-macam tergantung dari sistem yang digunakan oleh redaksi. Setiap blok memainkan peran penting dalam buletin berita.

The A block
Blok A merupakan blok paling penting untuk merangkul penonton. Untuk alasan itu blok ini biasanya lebih panjang. Gagasannya mencegah penonton lari ke televisi lain atau ke televisi pesaing. Biasanya disebut “front-loading”. Beberapa stasiun televisi menentukan blok  ini lebih panjang antara 10 sampai 11 menit.

Kadang-kadang satu stasiun televisi menyebutnya mini buletin karena didalamnya ada berita utama dilanjutkan dengan berita singkat olahraga atau cuaca.

The B block
Di blok ini kita menyimpan berita lainnya atau bahkan laporan khusus. Dengan mempromosikan di akhir segmen A maka bisa menahan penonton untuk tetap di saluran kita. Mulailah blok B dengan berita yang hampir penting seperti halnya berita utama. Mulailah blok ini dengan bambar vieo yang kuat dan jangan pernah memulai dengan “reader”.


The Weather block
Laporan cuaca biasanya lebih penting dari berita lainnya. Peneliti di Amerika menemukan laporan cuaca menjadi berita di atas ketika ditanya soal berita yang penting. INi masuk akal karena cuaca mempengaruhi hampir setiap orang dalam kehidupannya.


The sports block
Namun di sisi lain di Amerika, segmen sport biasanya rendah penonton. Penggemar olahraga biasanya kaum muda dan jarang melihat berita. Namu demikian olahraga tetap penting untuk diliput. Pemasang iklan menyukai olahraga karena penonton muda.

Power producer berusaha menempatkan berita kuat sekitar olahraga atau cuaca. Laporan mengenai cuaca buruk seperti tornado atau hurikane merupakan hal menarik terkait dengan laporan cuaca.


Other blocks
Tentu saja tidak semua buletin diproduksi dengan pembagian blok yang sederhana. Bukan ide yang buruk menempatkan laporan cuaca sebelum break dengan informasi akan kembali dengan laporan lebih besar.


The last blocks
Segeman terakhir di buletin berita biasanya menempatkan berita terakhir, kata penutup dari presenter dan menyebutkan program berikutnya. Namun kita dapat memasukkan lagi berita-berita utama secara singkat atau menyampaikan informasi terbaru atas breaking news. Bisa juga presenter menyampaikan apa berita besar hari berikutnya. Penonton tidak hanya ingin tahu apa yang terjadi tetapi juga yang akan terjadi. Selain itu dapat disampaikan berita menarik hari berikutnya dan lanjutan berita hari ini. Ini semacam promosi yang cerdas serta memberikan alasan kepada penonton agar kembali menyaksikan acara kita.


Longer newscasts
Seperti halnya program buletin setengah jam, program satu jam memerlukan perlakukan khusus. Teori bertahan menonton yang dipegang programer menyebutkan audiens itu berpindah saluran pada satu jam siaran meskipun tidak lagi berlaku setelah adanya remote control. 

Namun dalam siaran satu jam khususnya berita yang dimulai pukul 1700 maka akan memiliki berita utama kedua pada pukul 17.39 didahului dengan beberapa promo agar penonton tetap bertahan selama setengah jam ke depan.
Siaran satu jam memerlukan berita utama pada akhir jam karena kita mempromokannya pada akhir segemen A dan beberapa lainnya sepanjang siaran.
STORY COUNT AND FLOW


Ringkasan Chapter 6, Power Producer by Dow Smith