Peluang Presenter Berita Trans7

Trans TV
Image via Wikipedia

Sebuah peluang baru yang tidak bisa dilewatkan begitu saja bagi para calon presenter televisi. Trans7 sedang membuka kesempatan seluas-luasnya ikut dalam audisi presenter. Sebuah kesempatan emas bagi presenter-presenter baru televisi.

Berikut ini bunyi promosinya yang bisa dilihat di Trans7

Berminat Menjadi Newscaster (Presenter Berita) TRANS7?? Ikutilah Audisinya di Bandung Super Mall tanggal 21-22 November 09 dan

Jakarta bertempat di Gedung TRANS TV tanggal 5-6 Desember 09. Audisi akan dimulai pukul 10.00 WIB.

Untuk download formulir silahkan di Formulir Pendaftaran

Reblog this post [with Zemanta]

Kebangkitan Partai Buruh, Tinggal Tunggu Waktu

PARTAI Buruh Inggris sekarang seperti ancaman Partai Konservatif
yang sudah 18 tahun memimpin negeri itu. Konservatif tampak kehilangan semangat dibandingkan dengan Buruh yang menggebu-gebu untuk memulai awal baru bagi Inggris.
Bagaimana kebangkitan Buruh itu bisa terjadi? Nama Tony Blair (43)
patut dijadikan pertimbangan dalam proses ini. Sebelum Blair, Ketua
Partai Buruh Neil Kinnock memulai proses transformasi. Kemudian John
Smith melanjutkan pembaruan itu.
Di tangan Blair-lah perubahan Buruh itu menjadi badai baru di Inggris.
Semua kejadian sekarang bisa dilacak ketika Buruh terakhir berkuasa
tahun 1979 di bawah James Callaghan. Saat itu para pemimpin serikat
buruh merupakan nama yang melekat pada setiap rumah tangga di Inggris.
Dengan kata lain, Partai Buruh adalah idola karena mempertahankan
perhatian yang mendalam terhadap kebutuhan rakyat.
Telepon, air, gas dan listrik dipegang negara. Perusahaan transportasi dan kereta api demikian pula. Waktu berubah dan Buruh kehilangan lokomotifnya sehingga Margareth Thatcher muncul dengan mengangkat Konservatif.
Namun ketika Margaret Thatcher muncul dia pun tidak setuju dengan
swastanisasi. Bahkan tahun 1983 ketika Thatcherisme mulai berjaya,
Buruh naik dengan usulan agar keluar dari Masyarakat Eropa, reformasi
serikat buruh dan mengembalikan industri yang swasta kepemilikan umum.
Salah seorang tokoh Buruh melihat manifesto Buruh saat itu merupakan “catatan bunuh diri terpanjang dalam sejarah.” Tidak seperti tokoh sebelumnya, Blair memiliki wawasan lain, bukan bunuh diri pemilu.
Dengan tegas ia memindahkan Buruh ke arah tengah, mengubah
kebijakan yang pro sosialis yang mungkin mengecewakan sebagian
masyarakat Inggris.
Akibatnya memang menyakitkan. Tokoh Buruh seperti Roy Jenkins,
Shirley Williams, David Owev dan Bill Rodgers meninggalkah Buruh.
Mereka membentuk Partai Demokrat Sosial.
* * *

ANTHONY Lewis dari The New York Times menulis, Partai Buruh
memiliki komitmen ideologis yang kuat. Buruh sangat dekat dengan
serikat buruh. Buruh juga mendukung pengeluaran pemerintah untuk
program sosial dan pajak tinggi. Buruh juga punya program
nasionalisasi yang tetap dipegangnya.
Dalam tempo tiga tahun sejak ia naik 1994, Blair menyapu semua
komitmennya itu. Hubungan dengan serikat buruh memudar bahkan hampir putus. Klausul nasionalisasi dicabut dari anggaran dasar partai.
Lebih jauh lagi ia menjanjikan pajak takkan dinaikkan selama ia
berkuasa. Ia menekankan komitmennya untuk tidak mempertahankan batas pengeluaran pemerintah sekarang sampai dua tahun mendatang.
Perubahan itu jelas merupakan sesuatu yang mengherankan. Blair
memang sudah membungkam kebijakan lama Buruh. Namun demikian ia
mempertahankan ciri-ciri utamanya Buruh.
Blair sendiri dengan cerdik memahami bahwa masyarakat Inggris pada
umumnya takut akan perubahan. Apalagi jika kembali kepada ramuan lama Buruh. Rumus lama itu antara lain: pajak tinggi, pengeluaran juga
tinggi dan tentu saja serikat buruh memegang posisi penting.
Sebagian membandingkan taktik dia membawa Buruh itu seperti Presiden AS Bill Clinton. Clinton sendiri menamakan partainya Demokrat Baru. Blair melakukan hal yang mirip menjuluki partainya Buruh baru.
Secara ringkas bisa dikatakan bahwa Blair membawa Buruh ke arah
stamina yang baru ini – bahkan banyak pihak meramalkan akan menang
pada pemilu 1 Mei nanti meskipun belum terbukti kebenarannya –
disebabkan oleh kepiawaiannya merumuskan ulang doktrin partainya.
Ia buang yang tidak cocok dan mengadopsi apa yang sesuai dengan
masyarakat sekarang.
Bahkan bila perlu ia berusaha keras mengubah konstitusi partai yang
mencabut komitmen partai terhadap nasionalisasi dan pemilikan badan
usaha penting di tangan pemerintah. Akhirnya ia menggunakan jurus yang juga digunakan Clinton untuk menangani kejahatan dengan kebijakan yang keras. Formula kebangkitan Buruh yang ditata Blair ini masih perlu dibuktikan pada hari pemungutan suara 1 Mei. Tampaknya hari pemilu Inggris ini memang menjadi sesuatu yang menegangkan karena jajak mendapat memihak Buruh tapi bukti belum ada. Bahkan pada detik terakhir bisa juga Konservatif secara spektakuler meraih kekuasaan untuk kelima kalinya. Sungguh menarik dan menegangkan karena hasilnya masih diliputi misteri. (Asep Setiawan, dari London)

KOMPAS, Senin, 28-04-1997. Hal. 7

Perdebatan Nilai-nilai Asia dalam Keajaiban Ekonomi

PERTUMBUHAN ekonomi Asia yang mengesankan tak hanya menjadi
perhatian para pengambil keputusan di pemerintahan dan pengusaha,
tetapi juga para akademisi. PM Singapura Lee Kuan Yew dan PM Malaysia
Mahathir Mohamad sering mengulas kemajuan ekonomi sebagai bagian dari
keberhasilan membangun sistem politik baru di Asia yang berbeda dengan
Barat.
Sedangkan kalangan akademis mempersoalkan apakah pertumbuhan ekonomi
yang tinggi itu merupakan sebab dari logika yang terjadi di Barat.
Misalnya karena investasi yang naik, stabilitas politik yang
berkesinambungan, atau sebab lain seperti sumber daya alam yang
tersedia berlimpah.
Misteri tentang sebab-sebab atau faktor yang mendukung pertumbuhan
ekonomi sampai soal nilai-nilai Asia (Asian values) yang turut
menentukan arah kemajuan ekonomi, menjadi menarik untuk disimak.
Dari perdebatan mengenai pengaruh nilai-nilai Asia terhadap keajaiban
ekonomi ini setidaknya muncul dua aliran. Pertama, mereka yang yakin
bahwa nilai-nilai Asia itu tidak seperti yang disodorkan para pemimpin
Asia. Nilai yang mereka anut bersifat universial dan keberhasilannya
pun sudah teruji dalam masyakarat lain. Dengan kata lain, mereka
meragukan adanya suatu nilai unik Asia yang jadi faktor penunjang
booming ekonomi.
Kedua, nilai-nilai Asia memang ada dan sangat berpengaruh dalam
perubahan sosial ekonomi di kawasan ini. Keyakinan bahwa nilai-nilai
Asia atau cara-cara Asia dalam pengelolaan ekonomi itu eksis terlihat
dari keberhasilan dalam tiga dekade ini di kawasan Asia.

Esensi nilai-nilai Asia
Yang menjadi sentral perhatian persoalan nilai-nilai Asia adalah
pertanyaan, faktor apa yang menggerakkan masyarakat Asia sehingga
mencapai tahap pertumbuhan ekonomi seperti sekarang ini.
Tommy Koh, pensiunan diplomat senior Singapura mencatat adanya 10
nilai-nilai positif. Ia antara lain menyebutkan hemat, bersahaja,
hormat kepada leluhur dan perhatian yang sangat tinggi terhadap
keluarga. Mantan PM Singapura Lee Kuan Yew bahkan mempertentangkan
paham sentralitas keluarga sebagai nilai Asia yang sangat penting
dibandingkan paham invidualisme yang subur di Barat.
Sebuah lembaga yang menamakan diri Komisi Asia Baru – pimpinan pakar
asal Malaysia Noordin Sopiee – mengidentifikasi 16 premis dasar dan
prinsip-prinsip yang akan menuntun aspirasi Asia pada tahun 2020.
Kembalinya nilai-nilai tradisi yang dipengaruhi agama dan budaya Asia
ikut memberikan warna.
Michael Haas, salah seorang ilmuwan asal Amerika Serikat, lebih
lanjut menghubungkan nilai-nilai itu dalam praktek pemerintah di Asia.
Menurut dia ada dua tahap dan enam prinsip yang perlu dipertimbangkan
untuk memahami gaya Asia (Asian Way). Haas sendiri menganggap ungkapan
Asian Way atau Asian Values dapat dirunut dari ucapan salah seorang
pejabat Malaysia, yakni U Nyun.
Haas menyatakan, “Tahap pertama terdiri dari keyakinan umum dan
orientasi terhadap manusia dan hubungan internasional. Tingkat kedua
terdiri dari praktek-praktek dan prosedur yang diikuti dalam situasi
kongkret”.
Sementara itu Desmond Ball, pakar tentang Asia, mengidentifikasi
faktor-faktor yang fundamental bagi budaya Asia. Ball menyingkatnya
dengan menyebutkan faktor penghormatan terhadap hirarki dan otoritas,
penghindaran konflik dalam hubungan sosial, dan penekanan pada
ketertiban dan harmoni.
Tema tentang nilai Asia ini memang menarik, sehingga David Hitchcock
pun melakukan sebuah penelitian langsung dengan mewawancarai kalangan
eksekutif, akademisi, dan pakar di Asia untuk merumuskan persoalan
ini.
Penulis buku Asian Values and The United States ini akhirnya
menemukan bahwa norma-norma Asia meliputi keluarga, rasa hormat terhadap
otoritas, komunitarianisme dan kerja sama, komitmen kuat terhadap
pendidikan, disiplin diri dan penghargaan terhadap ketertiban,
“negara”, dan “generasi tua”.

Nilai Asia universal
Gubernur Hongkong Chris Patten sebagai seorang praktisi pemerintahan
yakin bahwa apa yang disebut nilai-nilai Asia itu tidak khusus. Ia
berkeyakinan cara Asia dalam pengembangan sektor ekonomi adalah sama
dengan yang pernah berlangsung di Barat.
Alasan pertama, faktor sangat penting dalam kebangkitan Asia adalah
keyakinan dalam hati dan pikiran ratusan juta warga Asia bahwa hidup
“dapat dan harus” dikembangkan untuk mereka dan keluarga.
Dalam artikelnya Is There an ‘Asian Way’?, penjelasan teknis
bagaimanapun dan kekuatan ekonomi apa yang mendorong keberhasilan Asia
adalah tekad untuk memperbaiki keluarga dari kepapaan dan kemiskinan
menuju kehidupan yang lebih baik (Survival, 1996).
Alasan kedua keberhasilan ekonomi adalah kebebasan ekonomi (economic
liberty). Patten melihat, meskipun banyak pemerintahan jauh dari sikap
toleransi terhadap kebebasan sipil dan politik, banyak pula yang
mengakui perlunya memberikan kebebasan ekonomi kepada warga negaranya.
Patten menilai, faktor kedua ini yang menjadi kunci keberhasilan
ekonomi abad yang lalu, namun harus mempelajari hal baru dari fenomena
Asia. Apa yang membuat ekonomi Asia sukses adalah jika pemerintah
menghambat perusahaan dengan pajak tinggi, pasar kelas dua, dan
mendistorsi ekonomi dengan subsidi dan kontrol, sehingga membuat
ekonomi tinggi.
Dengan kata lain, masyarakat hidup dengan ekonomi biaya tinggi,
namun hidup dengan standar lebih rendah dan pelayanan umum yang tak
memadai. Ini bisa berati pula, kata Patten, pengusaha kurang kompetitif
di pasar global dan kurang menarik minat investasi dari luar.
Alasan ketiga bagi keajaiban ekonomi adalah perdagangan bebas (free
trade). Keyakinan terhadap kemajuan dan kebebasan ekonomi telah
membawa masyarakat Asia dalam jalan menuju kemakmuran. Namun menurut
Patten, yang lebih penting lagi justru perdagangan bebas. Akses ke
Amerika Utara dan Eropa Barat memungkinkan pertumbuhan cepat setelah
Perang Dunia II berakhir.
Akhirnya ia menyimpulkan bahwa tiga alasan itu dapat disingkat
sebagai keyakinan akan kemajuan, keyakinan akan economic liberty
(kebebasan ekonomi), dan keyakinan akan perdagangan bebas. Dari seluruh
alasan itu, Patten menilai bahwa tak ada yang bisa dikategorikan nilai
Eropa atau Amerika. Keyakinan itu bagian dari sejarah revolusi industri
Eropa sehingga bersifat univesal.

Nilai Asia unik
Anggapan bahwa nilai Asia unik muncul terutama dari para pemimpin
dan pakar asal Asia. Gagasan ini sendiri mulai menonjol pertengahan
1980-an. Kemudian awal 1990-an dari berbagai pidato dan tulisan para
pemimpin dan tokoh Asia, kajian dan kepercayaan terhadap nilai-nilai
Asia sebagai “bahan bakar” pertumbuhan ekonomi semakin gencar.
Pada umumnya mereka menyerukan agar kembali kepada nilai-nilai
tradisional yang sama bagi masyarakat Asia. Mereka juga menonjolkan
perbedaan apa yang disebut nilai Asia dan Barat.
Sejumlah pakar Jepang berusaha untuk merekonseptualisasi dan
memodernisasi nilai-nilai Asia. Misalnya pakar bernama Yoichi
Funabashi beranggapan bahwa kawasan ini bukannya “di-Asiakan kembali”
(re-Asianised), namun sedang “di-Asiakan” (Asianised).
Funabashi menilai, bukannya kembali kepada nilai-nilai dan praktek
lama, namun menciptakan “benih baru sivilisasi campuran yang subur”,
di mana akan muncul “sivilisasi Cina dan Indo-Cina dikombinasikan
dengan Jepang dan Amerika menjadi satu”.
Sejalan dengan argumen itu, muncul tulisan para pejabat dan pakar
Cina. Li Xianglu yakin, Asia Timur memeluk nilai-nilai Kong Hu Cu, di
mana dukungan terhadap kerja keras, hemat, kesalehan, dan kebanggaan
nasional” telah mendorong pertumbuhan ekonomi.

Peran nilai Asia
Dari perdebatan pro-kontra apakah nilai-nilai Asia itu universal
atau khas, tampaknya fokusnya terlalu disoroti pada konsep-konsep yang
berkaitan dengan budaya, agama, sosial, dan ekonomi, bukan pada peran
nilai-nilai itu bagi pertumbuhan ekonomi.
Sentralitas perhatian bangsa-bangsa di Asia terhadap pentingnya
keluarga atau ikatan kekeluargaan hampir memiliki kesamaan, mulai
Jepang di belahan utara sampai Indonesia di selatan.
Lee Kuan Yew sangat percaya bahwa keluarga dan keutuhan keluarga
menjadi sentral dalam kehidupan masyarakat Asia. Demikian pula tatkala
menjalankan praktek ekonomi, sulit melepaskan diri dari kultur seperti
ini. Bahkan ketika Singapura semakin makmur pun Lee masih menekankan
bahwa ikatan keluarga menjadi pilar utama kesejahteraan masyarakat.
Praktek yang lahir dalam kegiatan ekonomi berupa kultur senioritas
yang kuat dalam bidang usaha. Senioritas ini melahirkan ketertiban dan
keharmonisan, karena generasi baru tidak berusaha mematahkan ta-tanan
yang sudah tercipta pendahulunya.
Beberapa aspek penting nilai yang ada di Asia seperti penghematan,
bersahaja, dan kepercayaan akan nasib ikut mempengaruhi seperti halnya
nilai-nilai “tidak produktif” yang disebutkan PM Mahathir berupa
feodalisme, anti materialisme yang berlebihan, dan perbedaan otoritas
berlebihan, yang ikut mempengaruhi pola dan arah pertumbuhan ekonomi.
Akhirnya dapat disimpulkan sementara bahwa, betapapun nilai-nilai
Asia itu memiliki ciri universalitas namun juga kekhasan tertentu.
Nila-nilai Asia hidup bukan di ruang yang vakum, sehingga pengaruh
Barat pun tak terhindarkan lagi. Pengaruh luar itu memang diadaptasi
sesuai dengan kapasitas kulturnya, sehingga tidak serta merta berubah
total.
Nilai-nilai yang dibantu Asia itu pun cukup berperan dalam membentuk
dan menggerakkan mesin ekonomi negara-negara di Asia. Namun tidak
semua nilai-nilai Asia memberikan dukungan terhadap pertumbuhan
ekonomi seperti halnya tidak semua nilai-nilai non Asia berpengaruh
buruk bagi iklim ekonomi Asia. (asep setiawan)

KOMPAS, Selasa, 11-03-1997.