Perhatikan cara berpakaian di lapangan

Mungki hal sepele tapi bisa menjadi masalah besar. Saat terjun ke lapangan perhatikan busana yang dikenakan. Maksudnya bukan untuk memberitahukan bagaimana kita selayaknya berpakaian namun perlu diperhatikan bagaimana dan dimana saja pakaian tertentu bisa digunakan.

Jika Anda ikut rombongan presiden yang sedang berkunjung ke Washington misalnya, tentu tidak pantas memakai sepatu sport dengan kaus T-shirt. Ini bisa dirasakan sendiri betapa tidak pantasnya pakaian yang dikenakan itu.

Wartawan di bidang apapun juga manusia. Mereka bertugas di sekitar manusia dalam acara tertentu. Oleh karena itu pehatikan dimana kita akan bertugas dan dalam suasana apa nantinya.

Seorang yang akan meliput sepakbola ke stadion tentu tidak perlu mengenakan dasi. Cukup T-shirt, topi dan mungkin celana jeans. Sepatu sport cocok untuk di stadion. Busana sport seperti itu juga memudahkan berbaur dengan penonton.

Sebaliknya kalau datang ke daerah konflik, tentu perbekalan yang sifat keamanan lebih penting. Makanan dan ransel yang kuat juga penting. Peta perjalanan, telepon seluler yang selalu dibawa bila sinyal masih tertangkap dan juga diperhatikan ketebalan baju, pelindung dari hujan dan panas serta alat-alat keamanan menghadapi binatang kecil.

Cara busana ini bisa diperluas dan dirinci lebih lanjut dalam perjumpaan lainnya. Hanyasanya seorang wartawan karena juga manusia perlu memperhatikan dimana dia bertugas.

Iklan

Wawancara dengan Wan Azizah Wan Ismail

Salah satu liputan di lapangan yang penting adalah wawancara nara sumber utama. Setiap peristiwa ada pelaku utamanya dan inilah yang menjadi sasaran semua jurnalis mengejarnya. Dari peristiwa olahraga, ekonomi, hiburan sampai politik, senantiasa muncul aktor-aktor utama yang menjadi bahan berita.

Mengejar mereka merupakan salah satu tantangan bagi para wartawan terutama mereka yang masih muda. Menjajal akses kepada nara sumber dengan berbagai pintu memiliki teknik sendiri.

Dalam kasus ketika saya meliput perkembangan Malaysia sesudah Anwar Ibrahim ditahan tahun 1998, nara sumber utamanya adalah Wan Azizah Wan Ismail. Dialah yang dianggap pengganti Anwar dan sekaligus motor penggerak reformasi.

Perhatian dunia teruju kepada seorang ibu yang sebelumnya tidak pernah berkecimpung langsung dalam dunia politik. Menemui Wan Azizah ternyata tidak sesulit menemui Anwar Ibrahim. Setelah mendapatkan ijin ke rumahnya, tentu dengan cara tersendiri karena adanya polisi pakaian preman yang menahan orang yang mendekati rumah Wan Azizah.

Saya datang tidak langsung menuju rumahnya di daerah Damansara tetapi memantau situasi dahulu. Dari restoran dekat kediaman Wan Azizah terlihat polisi berseragam berjaga-jaga dan menghalau sejumlah orang yang diduga pendukung Anwar.

Saya berusaha tidak mencolok datang sehingga bisa mendekati rumah dan langsung masuk kedalam mengetuk pintunya. Setelah konsultasi dengan seorang kerabatnya maka saya dijanjikan wawancara dengan Wan Azizah.

Berikut ini hasil wawancara yang dimuat di Kompas berkisar pendangan pribadinya mengenai berbagai masalah politik. Sebenarnya isi wawancara lebih panjang dari yang diberitakan. Keterbatasan space di surat kabar mengharuskan saya meletakkan hal-hal penting untuk pembaca dibandingkan yang lainnya.

WAWANCARA DENGAN WAN AZIZAH: 

 SAYA KAWIN DENGAN SEORANG PEJUANG 

    Penangkapan Anwar Ibrahim tidak menghentikan gerakan reformasi  di  Malaysia yang kini mendapat dukungan dari pelbagai lapisan  masyarakat.  Komando gerakan reformasi kini di tangan Dr Wan Azizah Wan Ismail  (46), istri Anwar Ibrahim. Ia mengaku, tak gentar menghadapi bagai  intangan. Ia siap berjuang, karena ia sadar sejak semula kawin  dengan seorang pejuang.     “Insya Allah gerakan reformasi akan berhasil, karena didukung  terutama oleh lapisan masyarakat bawah, yang terdiri dari berbagai  kaum. Baik Melayu, Cina, maupun India. Rakyat Malaysia juga yakin  akan  bersikap teguh dalam memperjuangkan keadilan di negerinya,” ujarnya  dalam wawancara khusus dengan wartawan Kompas, Asep Setiawan di  kediamannya Jalan Setia Murni I No 8 Bukit Damansara,Kuala Lumpur.     Datin Wan Azizah, yang tampil berpakaian motif bunga berwarna kuning cerah dengan kerudung polos warna kuning emas, tidak bisa  lagi  menerima para pendukungnya seperti biasa. Ia dan rumahnya diawasi  polisi selama 24 jam. Bahkan hampir setiap hari ada helikopter polisi  yang mengawasi dari udara.     Namun demikian, semangat reformasi di negara yang berpenduduk 22  juta jiwa itu sudah menjalar ke berbagai pelosok. Sejak Anwar dipecat  2 September kemudian ditahan 20 September lalu, Wan Azizah menjadi fokus harapan. Berikut ini petikan wawancaranya.  

Wan Azizah Anwar

    Apakah Datin (Ibu -Red) Wan Azizah yakin gerakan reformasi di Malaysia akan berhasil?  

    Insya Allah. Sebab apa? Allah akan menolong orang dalam  kebenaran. Orang yang menuntut hak itu, akan ditolong Allah, tetapi mestilah  diberikan satu ujian, untuk menguji bagaimana kita menangani masalah  ini dengan ketaqwaan kepada Allah SWT, dengan iman dan amal kita. Saya merasa ini suatu hikmah. Musibah yang berlaku atas suami saya dan keluarga telah mendekatkan kami kepada Allah SWT.  

    Apakah Anda siap melanjutkan gerakan reformasi, Datin ?     Ya, saya akan memikul amanah apa yang Abang (Anwar) katakan.  Saya percaya pada perjuangannya, sebab itulah kita menikah dulu. Saya menikah bukan dengan seorang menteri, saya kawin dengan seorang pejuang. Saya membela kebenaran, dan itu akan menjadi kekuatan untuk mengatasi  masalah ini. Selama ini Anwar berjuang di dalam pemerintahan, mengikuti peraturan, dan konsensus. Akan tetapi, ia memohon maaf ketika dalam pemerintahan, ia tak berdaya membetulkan apa yang dianggapnya tidak benar. Akan tetapi, itulah harga yang harus dibayarnya, pemecatan dirinya. Ia tidak  hanya  dicopot dari jabatannya, tetapi juga diaibkan tanpa pengadilan.     Bagaimana Datin melihat tanggapan masyarakat terhadap gerakan  reformasi ?     Alhamdulillah, saya bersyukur kepada Allah SWT, karena penyokong- penyokong bukannya dari kalangan orang berkepentingan dan berpangkat  tinggi, melainkan dari orang biasa, yang tidak kami kenal dan tidak pernah masuk aliran politik. Mereka melihat kasus Anwar dianiaya, mereka sendiri terpanggil, datang untuk menyuarakan protes atas keadaan ini.  

    PM Mahathir Mohamad menuduh demonstrasi, misalnya di Masjid Negara, itu membuat kekacauan? Bagaimana komentar Datin?   

    Sebenarnya bukan membawa kekacauan, melainkan hanya menyuarakan  suara hati tentang terjadinya ketidakadilan. Di mana-mana akan  terdengar suara protes. Orang tidak mempunyai saluran untuk  mengutarakan ketidakpuasannya terhadap ketidakadilan yang terjadi. Kalau saja orang nomor dua di negeri ini diperlakukan secara begitu, lalu bagaimana nasib orang biasa?  

    Apakah harapan Datin terhadap pengadilan Anwar nanti ?      Saya berharap sekali Pak Anwar, Insya Allah, diberikan pengadilan yang seadil-adilnya, sidang pengadilan yang terbuka, dengan  pengacara- pengacara yang kami pilih dan hakim independen.  Pengacara kami belum bisa bertemu Pak Anwar walaupun berulangkali memohon tetapi tidak diberikan izin berjumpa. Mana buktinya kalau Pak Anwar berbuat aib. Tidak ada. Yang ada  hanya kesaksian dua orang yang diambil polisi. Keluarga dan  pengacara  tidak diberi kesempatan bertemu kliennya. Mereka juga tidak diberi kesempatan untuk tahu kapan masa persidangannya. Ketika mereka tahu sudah hampir selesai, lalu diberi hukuman saja.    

Ketika Datuk Anwar dikatakan tidak bermoral bagaimana perasaan  Datin ?

     Oh, saya tidak percaya sama sekali. Setelah saya menikahinya, saya mengetahui ia orang yang selalu bersembahyang, selalu pulang rumah,  family man. Kalau pergi berlibur, membawa kami semua sekeluarga, anak  kami keenamnya ikut. Ibu bapaknya juga ikut kami. Dia selalu memberitahu  anak-anaknya, dia orang yang bertanggung jawab, dia orang yang  lembut kasih kepada diri saya. Jadi saya tidak memiliki alasan untuk menuduh dia berlaku durjana.  

    Bagaimana perasaan anak-anak ?  

    Memang anak-anak sedih karena ayahnya diaibkan. Mereka tahu  ayahnya tak bersalah. Mereka juga sedih tidak dapat jumpa ayahnya – buah  hati pernikahan Anwar-Wan Azizah tahun 1980 itu adalah Nurul Azizah (18), Nurul Nuha Anwar (14), Muhammad Ihsan (13), Nurul Ilham (11), Nurul Iman (8) dan Nurul Hana (6).*  

Sumber:KOMPAS, Selasa, 29-09-1998  

Liputan Pemilu Inggris 1997

Saat masih di Kompas saya pernah mendapat tugas meliput pemilihan di Inggris. Saat itulah untuk pertama kalinya Tony Blair menjadi perdana menteri seperti sudah diperkirakan sebelumnya.

Kajian mengenai gerak gerik Tony Blair inilah yang menarik dunia dengan jargon New Labour Party.

Liputan seperti ini tentu tidak memiliki akses langsung kepada tokoh-tokoh partai namun lebih sebagai observasi di lapangan berdasarkan tinjauan ke markas partai, media massa dan reaksi masyarakat Inggris yang terekam di berbagai sumber berita.

Berikut ini contoh penulisan liputan pemilu dimana penulis tidak langsung mengamati jalannya kampanye:

                 

 Ketua Partai Buruh Tony Blair:

INGGRIS HARUS BERUBAH 

London, Kompas

Partai Konservatif pimpinan John Major menekankan pada “statusquo” untuk memenangkan pemilihan umum 1 Mei nanti. Sedangkan saingan utamanya Partai Buruh pimpinan Tony Blair mengajak masyarakat untuk berubah agar Inggris lebih baik. 

Wartawan Kompas,
Asep Setiawan dan pembantu Kompas, L Sastra Wijaya melaporkan, poster-poster kampanye Partai Konservatif di London menyerang langsung Partai Buruh. Misalnya salah satu poster berbunyi, “Inggris sedang berkembang, jangan biarkan Buruh merusaknya”. 

Sementara Blair yang tampil dalam poster kampanye Partai Buruh mengajak masyarakat Inggris agar membangun negerinya lebih baik lagi. Poster Buruh ini seolah-olah tidak mempedulikan serangan Konservatif, tapi mengalihkan perhatian pada perbaikan Inggris. 

Sejumlah rumah juga terlihat memasang tanda bunga mawar di jendelanya sebagai dukungan terhadap Partai Buruh. Setelah 18 tahun berkuasa tampaknya Konservatif yang dilanda perpecahan akan berakhir kejayaannya. Berbagai laporan media dan komentar pengamat politik sudah mengarah pada tampilnya Blair dan kalahnya Major. Namun majalah Economist mengambil sikap hati-hati dengan menampilkan judul di mana Konservatif akan kalah tapi Buruh-pun tak berhak menang. 

Harian The Times dalam berita utamanya malah sudah meramalkan adanya pergulatan kekuasaan untuk menggantikan Major. Wakil PM Michael Heseltine dan Menteri Pertahanan Michael Portillo diramalkan akan bertarung memenangkan kedududkan kunci di Partai Konservatif. 

Suasana kampanye masih berlangsung ramai. Blair dengan semangat sekali mengajak para pendukungnya untuk memenangkan pemilu kali ini yang menurut jajak pendapat sudah dimenangkannya. Bahkan ia dengan menggunakan helikopter mewah terjun ke lapangan, menuju tempat-tempatpemilihan potensial. Tidak canggung-canggung ia berjabat tangan dengan para olahragawan sebagai sarana kampanyenya. Blair bisa membawa Buruh menjadi ancaman bagi Konservatif karena visinya yang segar bagi partai dan masyarakat. Kini ia menjadi sorotan masyarakat Inggris dan bahkan negara lainnya terutama Eropa. Ia dikenal sebagai salah satu pendukung integrasi Inggris ke dalam Uni Eropa. Sebaliknya Konservatif menghalang-halangi integrasi itu. 

Sampai Senin, kedudukan Buruh masih di atas angin. Sebaliknya Konservatif berusaha menyerang berbagai posisi Buruh untuk melemahkannya menjelang pemilu nanti. Namun usaha itu tampaknya sia-sia saja karena Buruh dengan segenap kekuatan ingin meraih kesempatan emas ini, berkuasa setelah 18 tahun menjadi oposisi. 

Suasana dan mood masyarakat pun tampaknya lebih cenderung untuk menerima kehadiran Buruh di pentas politik. Mungkin sudah jenuh dengan
gaya Konservtif apalagi di bawah Major yang kurang bergairah, atau memang Buruh yang lebih menarik tawarannya masih sulit diduga. Hanya banyak pengamat sekarang memfokuskan pada isu-isu yang diajukan Buruh dan mulai menimbangnya. *

Sumber: KOMPAS, Selasa, 29-04-1997.

Tips liputan di Timur Tengah 1

Beberapa negara pernah saya kunjungi di Timur Tengah mulai Arab Saudi sampai dengan Mesir. Satu hal terpikirkan mengenai Timur Tengah adalah udaranya yang panas, gurun pasir dan orang-orang Arab.

Di Timur Tengah, selain bahasa Arab, bahasa pengantar sehari-hari bahasa Inggris. Banyak orang Arab apalagi yang terpelajar lancara berbahasa Inggris. Di negara-negara Teluk mereka sangat dipengaruhi oleh teknologi dari Barat mulai dari transportasi sampai peralatan medis dan komunikasi. Di Arab Saudi, peralatan medianya canggih meskipun content media nya mendapatkan pengawasan.

Khusus di Arab Saudi, kehadiran wartawan sangat diperhatikan. Nyamur pers, begitu istilah di Indonesia, akan diawasi dengan ketat apabila kedatangannya memang khusus urusan dengan media. Kecuali kedatangannya ada kaitan dengan umroh atau haji, maka pengawasan terhadap kalangan media jangan dianggap remeh.

Salah-salah Anda bisa masuk penjara gara-gara memotret sembarangan. Dilarang memotret tempat suci di Mekkah dan Medinah, dilarang memotret instalasi militer, kantor polisi, kantor pemerintahan dan tempat-tempat yang dianggap sensitif.

Saya pernah mengalami ketika kunjungan ke Mekkah bersama rombongan dan diantar oleh pejabat dari bagian penerangan, hampir dicengkram oleh polisi agama dan polisi reguler. Ceritanya setelah umrah kami masuk gedung penerima semacam hotel namun gatal untuk mengabadikan Masjidil Haram, maka ditariklah kamera ini dan hal yang sama dialami oleh kameraman Malaysia yang masih berada di rombongan. Karena kamera saya kecil, langsung dimasukkan saku tetapi kamera televisi Malaysia tertangkap basah. Maka terjadi rebutan dan omelan antara petugas penerangan yang berusaha menarik sang kameraman masuk ke hotel di samping Masjidil Haram dengan polisi agama yang meminta agar kamera diambil dan kasetnya biasanya dihancurkan.

Akhirnya dengan suara yang saling berdebat, petugas penerangan bisa membawa sang kameraman aman kembali ke hotel. Dia tidak marah, namun diingatkan lagi dilarang memotret Masjidil Haram.

Memotret perempuan di tengah keramaian pun walaupun maksudnya mengambil gambar gedung didekatnya bisa jadi urusan panjang.

Nasihat utama bagi kalangan media bila datang ke Saudi, jangan sampai ambil gambar ketahuan oleh aparat keamanan. Lihat kiri kanan, depan dan belakang baru memotret terutama di tempat sensitif. Tentu saja kalau hanya di depan hotel atau dipinggir pantai bisa saja dilakukan namun sekali lagi hindari askar atau polisi jika tidak mau urusan berpanjang lebar, kamera dibanting atau filmnya dicopot terus dibuang.

Mengambil foto saja sulit apalagi wawancara. Tidak bisa sembarangan orang di jalan diwawancara atau didekati. Apalagi berhadapan dengan kaum hawa, jangan coba-coba mendekat karena di Arab Saudi kaum hawa biasanya berjalan dengan pendampingnya.

Wawancara hanya bisa dilakukan setelah ada appointment dengan nara sumber. Apakah itu pejabat, pengusaha atau tokoh masyarakat biasanya harus ada indentitas jelas siapa kita.

Liputan ke Arab Saudi juga tidak sembarangan bisa dilakukan. Tanpa ijin jangan coba meliput di sana kecuali kalau kita ikut rombongan pejabat Indonesia dan berkesempatan melihat-lihat ke sekeliling serta melakukan observasi silahkan saja. Namun kalau sengaja membawa kamera, menulis dan mewawancara dengan tapa recorder, ketahuan oleh aparat bisa langsung diseret ke kantor polisi.

Masyarakat juga kadang-kadang merasa terganggu dengan kehadiran juru media ini. Namun sebagian masyarakat juga ada yang senang berfoto bersama kalau kita menunjukkan sikap bersahabat. Dan biasanya orang Indonesia memang sudah dikenal cukup bersahabat dengan masyarakat lokal.

Jangan khawatir kekurangan orang Indonesia di Arab Saudi. Hampir kemanapun, ke kota di luar Mekkah,Medinah, Jeddah dan Riyadh bisa ditemui warga Indonesia. Setidaknya mereka bekerja di hotel atau menjadi sopir kendaraan. Ini bisa menjadi nara sumber penting untuk penulisan laporan.

Jika datang ke Saudi kemudian membahas masalah tenaga kerja Indonesia mungkin tidak menjadi masalah. Namun jika kita bermaksud menulis mengenai kondisi monarki, keluarga kerajaan, demokratisasi dan kebebasan pers, berikan sedikit ekstra perhatian terhadap gaya penulisan dan fakta-fakta yang ditulis.

Di Indonesia pun Anda tidak luput darai pengamatan pihak Kedutaan Arab Saudi. Tentu kalau media Anda cukup besar dan liputannya menyeluruh maka ada kemungkinan bila terjadi penilaian negatif akan menjadi urusan dibelakang hari, artinya mungkin tidak diijinkan lagi berkunjung lagi.

Namun pada umumnya berhubungan dengan pejabat dan pengusaha Saudi, sama dengan nara sumber lainnya. Bisa gampang dan bisa juga susah.

Blog Pak Juwono

Berkenalan dengan Pak Juwono, begitu saja memanggilnya, sungguh beruntung. Sejak awal meniti karir di dunia wartawan Kompas, saya sudah berkenalan dengan beliau karena beberapa kali wawancara masalah internasional. Seminar, diskusi panel atau wawancara langsung baik di forum nasional maupun internasional berkali-kali saya ikuti.

Juwono Sudarsono

Ternyata saya mendapat informasi  Pak Juwono selain menjabat Menhan RI, juga ikuti menjadi blogger. Pandangan dan percikan pemikirannya sudah mulai memasuki alam maya. Klik saya:

http://www.juwonosudarsono.com/

Anda dapat juga memberi komentar baik dalam bahasa Inggris, Indonesia atau bahasa lainnya.

Satu pengalaman dengan Pak Juwono adalah beliau yang membuka mata saya untuk melanjutkan studi ke Birmingham, Inggris tahun 1993-1994. Bahkan ketika lamaran saya diterima, beliau bersedia memberikan surat referensi yang memang sangat dibutuhkan untuk akses ke dunia akademik di luar negeri.

Meski sibuk mungkin percikan pemikiran itu perlu direkam terus dan didiskusikan apalagi Pak Juwono memiliki akses ke suprastruktur sebagai decision maker.

Saya belum tahu apakah ada pejabat lainnya juga memiliki blog yang sama meski beberapa tokoh seperti Gus Dur sudah memiliki situs tersendiri jauh lebih canggih. Ya kita mulai blog untuk mengembangkan kreativitas dan sumbangsih kedalam pengembangan pemikiran di Indonesia.

Liputan dalam satu tim

Peliputan di lapangan tidak hanya dilakukan secara individual tetapi juga dalam satu tim. Sebagai anggota satu tim maka cara kerja dalam liputan pun mengikuti apa yang sudah disepakati dalam satu tim itu. Kesepakatan dan perencanaan di atas kertas ini penting agar tidak terjadi tabrakan dan agar ada pembagian tugas yang efisien. Pembagian tugas dengan berdasarkan kerangka yang sudah disepakati ini penting saat terjun ke lapangan.

Beberapa contoh dalam liputan satu tim adalah liputan pemilu, liputan khusus, liputan kasus pengadilan atau liputan konflik di lapangan dan juga liputan olahraga. Event olahraga yang besar seperti olimpiade atau pesta olahraga Asia Tenggara memerlukan perencanaan yang terpadu, tidak hanya pembagian dalam meliput cabang olahraga tetapi juga untuk irama liputan secara menyeluruh sehingga tidak ada event yang terlewatkan.

1. Peliputan pemilu. Saat pemilu berlangsung apakah pemilihan anggota parlemen/DPR atau presiden, sangat penting untuk membentuk tim terlebih dahulu dan membebaskan tugas personal jurnalistik dari tugas-tugas rutin. Biasanya setiap individu membuat rencana liputan sesuai dengan spesialisasi kawasan atau topik kemudian dipadu dalam sebuah proposal utuh. Persiapan dengan memegang proposal secara utuh ini akan memudahkan kerja di lapangan dan memudahkan fokus liputan sehingga lebih berkualitas dan terpadu. Pengalaman meliput pemilihan anggota DPR dengan fokus liputan di Palu, Sulawesi Tengah kemudian dipadukan dengan liputan di Jakarta, Sulawesi utara dan daerah lain memudahkan pekerjaan di lapangan juga. Demikian juga liputan pemilu di luar negeri seperti Malaysia, Palestina dan Israel memudahkan kerja kelompok baik dua atau tiga orang.

2. Liputan konferensi besar seperti APEC atau ASEAN baik di Jakarta atau di luar negeri juga memiliki karakter sama untuk memudahkan kerja satu tim. Kembali fokus liputan, rangkaian peristiwa dan topik apa yang akan diangkat akan lebih memudahkan dalam penyajian dan penulisan berita nanti. Konferensi besar memiliki berbagai acara yang perlu dibagi-bagi tugas dan perlu dikaji ulang fokus liputannya. Saat peliputan pertemuan puncak APEC di Manila menunjukkan bahwa satu tim beranggotakan sekitar empat orang memerlukan koordinasi dalam penyajian topik mulai dari bidang politik, ekonomi sampai dengan feature ringan atau berita analisis.

3. Liputan peristiwa khusus. Handover Hongkong adalah salah satu contoh peristiwa besar di luar negeri yang memerlukan kerja sama satu tim. Tentu pembagian tugas meski liputan di satu kota adalah penting. Penyusunan laporan mulai dari event itu sendiri sampai dengan reaksi masyarakat kecil perlu direkam untuk dimasukkan dalam laporan besar. Biasanya dalam liputan besar seperti peristiwa politik dan ekonomi ini maka alokasi space di surat kabar atau media cetak atau alokasi di media elektronik diperlukan diskusi harian terlebih dahulu sebelum penulisan naskah akhir. Fokus laporan perlu disiapkan lebih baik karena semua media akan menyajikan hal yang sama. Dengan kata lain, peristiwanya sama namun jika memiliki daya pantau yang kuat juga akan memberikan nilai tambah dalam liputan akhirnya.

4. Pengalaman mengikuti konferensi perdamaian Timur Tengah di Madrid tahun 1991 menunjukkan bahwa konferensi yang diliput ribuan wartawan dan dialokasikan hanya beberapa wartawan dari seluruh dunia hadir, maka diperlukan teknik lain untuk menuliskannya. Dalam konferensi besar seperti itu biasanya media centre menyajikan kelengkapan mulai dari release sampai dengan liputan melalui televisi. Salah satu pengalaman ketika itu, adalah karena para pihak yang bertikai dalam konflik Timur Tengah ini baru pertama kali duduk dalam satu tempat dan ruangan, maka sikap tubuh dan raut muka serta posisi duduk menjadi berita tersendiri. Dan itulah kemudian yang keluar dalam laporan, bukan substansi perundingan karena semua tahu bahwa substansinya akan sulit terselesaikan. Itu pula yang menjadi bahan laporan dari sebuah koran internasional dimana posisi duduk dan raut muka peserta perundingan dari Palestina dan Israel itu menjadi bagian laporan menarik. Dengan menyimak posisi duduk ini juga bisa diketahui bagaimana diplomasi konferensi ini begitu sulitnya sehingga tawar menawar dari kedua untuk tempat konferensi juga sangat alot. Dalam konferensi internasional biasanya tempat duduk itu menentukan nilai dari sebuah delegasi, apakah cukup terhormat, disisihkan atau diberi tempat yang sentral.

Liputan dalam tim ini juga akan menguji lebih banyak kemampuan kita dalam bekerja sama yang sangat penting dalam kelangsungan sebuah liputan peristiwa besar. Tentu saja tidak terhindar perbedaan pendapat dan angle dalam penulisan dan pelaporan namun ini bagian dari dinamika sebuah tim.

Powered by Qumana