Mencermati Manuver Murdoch

PEPIH NUGRAHA

Tahun lalu "Raja Media" Rupert Murdoch, pemilik News Corporation, konglomerasi media berbahasa Inggris terbesar di dunia, menyatakan, beberapa pemilik industri (media) suka merasa hebat, tidak dapat diketahui sebabnya, dan merasa puas dengan dirinya sendiri.

"Pembaca muda tidak ingin bersandar pada figur dewa yang turun dari langit untuk mengatakan kepada mereka mengenai hal-hal penting. Meminjam analogi agama, mereka tidak ingin berita disajikan seperti ajaran," ujar Murdoch pada Pertemuan American Society of Newspaper Editor di Washington, seperti dikutip The Economist edisi 22 April 2006 dalam survei media berita terbarunya.

Apa yang harus dilakukan koran-koran, kata Murdoch, adalah kebutuhan menyesuaikan diri dengan online. Situs pribadi (blog) milik para pembaca muda itu telah menjadi tempat untuk percakapan. "Warga digital tidak lagi berkirim surat kepada editor surat kabar. Ia memilih ber-online dan memulai blog. Artinya, kita harus menjadi tujuan akhir bagi para blogger ini," lanjutnya.

Bagi kalangan pebisnis media, apa yang dilontarkan Murdoch itu tidak lain sebagai isyarat bahwa ia akan terjun ke era digital. Pria kelahiran Australia ini tidak cukup puas dengan hanya membangun imperium koran, radio, dan televisi konvensional semata. Ia ingin menyulap internet menjadi tambang emas barunya. Para pakar komunikasi sepakat, Murdoch cukup luwes mengikuti perkembangan zaman, pun saat zaman memasuki era digital.

Benar saja. Tidak lama setelah pidatonya itu, Murdoch secara mengejutkan membeli MySpace, sebuah blog jaringan sosial yang sangat populer di kalangan kaum muda. MySpace tidak hanya populer di Amerika Serikat saja, tetapi juga telah melintas batas negara dan dijadikan tempat mangkalnya anak-anak muda di seluruh dunia yang melek internet.

Pendeknya, Murdoch yang menyebut dirinya digital immigrant atau tidak terlalu paham teknologi, sebagaimana ditulis Gatra 2 Juli 2005, ingin menyulap internet menjadi media interaksi dengan konsumennya. Lewat jaringan online yang telah dibelinya, MySpace, seorang pengunjung tidak hanya bisa berkirim surat kepada editor surat kabar, tetapi juga bisa berdiskusi berbagai hal, termasuk bagaimana satu berita diliput dan disajikan.

Sampai di sini Murdoch paham betul, berita di era digital tidak lain adalah percakapan itu sendiri. Interaksi di antara warga dalam sebuah blog adalah bentuk media massa di era digital.

Perkembangan internet berkecepatan tinggi yang semakin murah dan mudah telah menarik sebagian besar generasi muda terdidik yang melek internet beralih ke "media massa" milik mereka sendiri, yakni blog atau situs-situs pribadi. Tidak berlebihan jika anak-anak muda sudah berpaling dari media massa tradisional dan lebih memilih internet untuk melepas dahaga informasinya.

Betulkah media massa konvensional seperti media massa cetak, radio, televisi, dan bahkan situs berita dot.com harus menyesuaikan diri dengan kecenderungan media massa di era digital yang semakin interaktif, akrab, dan dekat satu sama lain?

Current TV

Di Amerika Serikat, mantan Wakil Presiden Al Gore dan rekan bisnisnya, Joel Hyatt, mendirikan stasiun televisi kabel, Current TV. Stasiun televisi kabel yang satu ini berbeda dengan stasiun-stasiun televisi kabel lainnya yang sudah marak. Lewat Current TV, pemirsa (pelanggan) dapat menyumbangkan cerita dalam bentuk video miliknya. Para pemirsa didorong untuk melakukan "VC2" atau viewer-created content (pemirsa menciptakan isi pesan).

Sekarang ini, baru 30 persen air time berisi laporan para pemirsanya. Akan tetapi, Hyatt berjanji dalam waktu dekat porsi air time berita-berita yang dibuat warga biasa (citizen reporter) akan menjadi 50 persen, bahkan lebih.

Bagaimana seriusnya Gore-Hyatt menggeluti bisnis ini tercermin dari upaya mereka melakukan pendidikan buat para pemirsanya bagaimana menjadi pewarta warga. Untuk menolong pemirsanya memulai, Current TV memberi tutorial online secara meluas tentang teknik bercerita, mengenal peralatan kamera, dan cara-cara mengirimkan video melalui internet.

Hasil survey The Economist mengungkapkan, saat Current TV diluncurkan, para pemilik stasiun televisi kabel "tradisional" menyepelekan dan bahkan mencemooh. Hyatt membalasnya dengan riang. "Apa yang tidak mereka mengerti bahwa puluhan ribu orang di luar sana dapat membuat sesuatu (berita) yang besar dalam beberapa menit saja," katanya.

Hyatt mencontohkan, seorang pelancong AS yang berada di Jalur Gaza saat penarikan tentara Israel dapat menjadi laporan berita video terbaik untuk televisi. Selama terjadi badai Katrina, sejumlah warga New Orleans membuat rekaman video atas apa yang dilihat dan dialaminya. Di Indonesia, saat tsunami menerjang Aceh, gambar video yang "paling genuine" justru yang direkam seorang penduduk, bukan yang direkam juru kamera profesional.

Berpalingnya Murdoch ke bisnis berita digital lewat media blog dan lahirnya ide Gore-Hyatt dengan Current TV-nya tidak lepas dari gagasan cemerlang pendekar berita blog dari Korea Selatan, Oh Yeon-ho. Oh adalah pendiri koran tanpa kertas (paperless) Ohmy News pada 22 Februari 2000, yang sampai saat ini merupakan blog berita tersukses di dunia.

Dengan kekuatan 41.000 "wartawan" yang merupakan pewarta warga, Ohmy News sudah menerbitkan edisi Ohmy News International berbahasa Inggris dan Ohmy News Japan untuk edisi bahasa Jepang, menyusul edisi bahasa China. Untuk edisi aslinya di Korea Selatan, Ohmy News dikunjungi sedikitnya 700.000 orang setiap harinya. Potensi yang amat menggiurkan untuk menarik pemasang iklan.

Sukses Ohmy News mau tidak mau membuka percabangan di dalam industri media massa Korea Selatan. Meski tidak membunuh industri media massa konvensional seperti koran dan penyiaran, Ohmy News mendorong para media konvensional menyesuaikan diri sebagaimana Ohmy News. Beberapa koran di Korea Selatan, misalnya, sekarang sudah dilengkapi umpan balik dan panel (jendela) untuk percakapan (chat) di bawah sebuah berita yang ditayangkan. Maksudnya tidak lain agar para pengunjung blog tersebut dapat berinteraksi dan berdiskusi mengenai suatu peristiwa.

Bagi media massa konvensional Indonesia, kehadiran blog yang kini sudah menjadi tren di kalangan anak muda dan bahkan ibu-ibu rumah tangga rupanya belum terlalu menjadi ancaman serius. Sederhana, para pemilik media menganggap stagnannya, kalau tidak mau dibilang menurunnya jumlah pembaca koran (juga pendengar radio atau pemirsa televisi), tidak terlalu berkorelasi dengan penurunan tiras.

Kalau "Raja Media" seperti Murdoch saja sudah melek digital dan terjun ke bisnis ini, apakah itu tidak dianggap sebagai sasmita telah berubahnya bentuk media massa ke arah yang lebih interaktif dengan melibatkan warga pembacanya?

Perlu disadari, satu generasi akan cepat berlalu ke generasi lainnya. Generasi pembaca dan pemirsa media massa konvensional saat ini akan segera tergantikan generasi muda yang jauh lebih akrab dengan berita-berita digital. Generasi ini boleh jadi tidak mengenal lagi media massa konvensional, bahkan untuk saat ini.

Sumber: Kompas, 24 Mei 2006

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s