Bagaimana menuangkan gagasan untuk feature

Penulisan feature merupakan salah satu pilar dalam media massa. Feature yang pada umumnya merupakan sebuah liputan yang tidak terikat pada pakem straight news atau current event merupakan tahap berikutnya dalam penulisan jurnalistik.

Menulis feature memerlukan latihan yang cukup lama. Tidak seperti menulis atau memberikan laporan mengenai current event, peristiwa yang sedang berjalan, penulisan feature perlu sedikit kontemplasi, renungan dan mempertajam situasi dibalik berita.

Bagaimana menuangkan gagasan dari berita menjadi sebuah tulisan featuris ?

Inilah tantangan yang tidak mudah. Beberapa hal bisa dipikirkan di bawah ini:

1. Fokus terhadap peristiwanya. Kebakaran pasar adalah kerangka berita utama hari itu, namun perjalanan manusia didalamnya, perjuangan pedagang yang sudah puluhan tahun memutar modal kemudian hangus tanpa asuransi merupakan sebuah bahan feature menarik.

2. Fokus kepada manusia. Cerita manusia didalam sebuah peristiwa, atau cerita seseorang dibalik peristiwa merupakan sebuah kasus menarik untuk diangkat. Rasa simpati penulis terhadap nasib salah satu korban tabrakan di jalan tol, misalnya akan menggugah para pengambil kebijakan untuk memperketat laju kendaraan di tol. Cerita mengenai manusia dibalik berita akan memberikan bobot pada laporan utama.

3. Tuangkan dalam tulisan yang menyentuh. Tidak seperti pemberitaan yang lugas, kurang emosional, maka tulisan bentuk feature bisa dijadikan sebagai sebuah karya jurnalistik yang menyentuh kehidupan inti manusia, tentang hidup dan mati, tentang cinta dan pengkhianatan dan tentang patriotisme, misalnya. Disini memerlukan sedikit keterampilan dalam mengolah karya tulis ini. Bahasa dari dunia sastra akan bermanfaat untuk memperhalus alur cerita tanpa terjebak kedalam cerita fiksi.

4. Ending yang berkesan. Kekuatan feature adalah menarik pembaca kedalam tulisan sampai titik terakhir. Buatlah alur tulisan yang mengarah kepada klimaks yang membuat pembaca penasaran akan cerita didalam tulisan itu. Ending cerita mungkin bukan kemenangan atau keberhasilan subyek cerita tetapi mungkin tatapan masa depan yang suram.

Sumber: www.journalist-adventure.com

Bagaimana wartawan mencari berita?

Sebelum terjun ke media massa, saya juga sempat terperangah dengan berbagai berita dan laporan yang muncul baik di media elektronik atau cetak. Bagaimana jurnalis ini bisa tahun berita ini dan itu ? Pertanyaan ini pernah disampaikan oleh salah seorang pembaca blog ini.

Setelah terjun kedalam media massa dimulai dari koran Kompas, secara perlahan mengetahui bagaimana wartawan mengetahui semua berita hari itu. Namun dalam pengalaman, bisa saja satu media “kecolongan” tidak dapat meliput, namun sore atau malam hari dicarinya berita yang keluar di radio atau televisi untuk keperluan surat kabar misalnya.

Ada beberapa cara berita itu diperoleh oleh wartawan.

1. Jadwal acara pejabat/lembaga

Setiap pejabat tinggi mulai presiden sampai dengan para menteri dan dibawahnya memiliki jadwal acara yang sudah disusun. Rapat kabinet misalnya biasa berlangsung hari Rabu untuk Polkam dan Sosial untuk hari Kamis. Ini tentu saja tergantung presidennya. Dalam rapat itu para wartawan bisa menebak agendanya. Atau kalau ada bocoran dari dalam bisa tahu apa yang diperdebatkan di dalamnya. Jadwal acara adalah hal utama dalam liputan setiap media. Tim jurnalis tinggal datang dan mengembangkan beritanya.

Selengkapnya baca Journalis-Adventure.

Teknik menulis di media massa

Anda sudah menulis artikel untuk kolom opini di surat kabar namun seringkali di tolak? Atau Anda baru akan memulai untuk mengirimkan artikel ke surat kabar atau majalah ? Tulisan berikut barangkali akan menjembatani beberapa kesulitan sehingga artikel Anda atau analisis Anda bisa sering dimuat.

Beberapa ciri dari harian dan majalah penting untuk diingat sehingga saat memulai menulis sudah terbayangkan siapa pembacanya dan bagaimana skope medianya.

Tips di bawah ini tentu tidaklah lengkap dan bukanlah aksioma yang harus diikuti. Namun tips ini sekedar rambu-rambu yang bisa memberikan sedikit panduan mengenai menulis di media massa.

1. Aktual

Surat kabar atau majalah mingguan memiliki ciri utama aktual. Harian seperti Kompas atau Republika sangat terikat dengan waktu. Harian mencerminkan berita dan informasi setiap hari. Berita hari ini akan menjadi basi pada keesokan harinya. Koran hari ini tidak akan menjadi panduan lagi pada keesokan harinya. Jadi artikel dan opini di dalamnya pun harus dan biasanya aktual dengan kejadian yang sedang muncul. Misalnya, artikel mengenai sistem pencarian pesawat hilang akan sangat bermanfaat sekarang untuk menjelaskan mengapa di abad satelit ini sebuah pesawat AdamAir dengan 100 penumpang lebih telah beberapa hari tidak terlacak. Dengan sendirinya sebuah tulisan yang aktual dan lagi hangat dibicarakan kans untuk dimuat akan semakin besar.

2. Ringkas dan Jelas

Selain aktual, sebuah artikel diharapkan oleh pembacanya ringkas dan jelas. Ringkas artinya pembahasannya mengenai sebuah topik dilakukan secara garis besar, tidak sampai detail. Rincian angka atau teori yang teknis tidak perlu dibahas apalagi kajian mengenai teori yang berbeda-beda. Cukup satu pendekatan dan terangkan. Jelas artinya tulisan itu mencerminkan judul. Tulisan di sebuah harian karena biasanya berlaku hanya 24 jam maka uraiannya perlu sebuah kejelasan. Misalnya, tulisan dengan topik skenario hilangnya AdamAir dijelaskan dengan meminjam perbincangan para pakar mulai skenario karena cuaca buruk, skenario ledakan bom dan skenario human error. Perbincangan mengenai topik akan menarim sepanjang pesawat masih belum ditemukan.

3. Paragraf yang jelas

Sebaiknya sebuah artikel menggunakan sub judul dengan paragraf yang jelas. Paragraf mencerminkan langkah-langkah untuk menjelaskan pendapat, atau argumentasi. Sub judul kecil akan sangat membantu pembaca merangkum dengan cepat. Perlu diingat bahwa artikel di media massa bukan uraian akademis maka dibayangkan pula pembacanya bisa menjangkau semua lapias. Editor rubrik artikel ini sadar akan bayangan mengenai pembacanya ketika menerima sebuah artikel. Tidak hanya paragraf itu menjelaskan pembukaan, batang tubuh tetapi juga kesimpulan.

4. Pikirkan panjang tulisan

Sebuah tulisan di surat kabar biasanya berkisar antara empat sampai lima setengah halaman A4 dengan format dua spasi. Empat halaman sudah dianggap cukup tetapi lebih dari enam halaman dianggap bisa terlalu panjang. Ketentuan ini tentu tidak kaku tergantung kondisi pembahasan artikelnya apakah memang sangat menarik perhatian pembaca.

5. Sertakan CV singkat

Sebuah keterangan mengenai siapa Anda akan sangat banyak membantu editor untuk memutuskan apakah artikel ini ditulis seorang awam atau seorang pakar atau peneliti. Seorang spesialis di bidang teknologi penerbangan akan sangat besar kans nya untuk dimuat jika menguraikan soal teknis mengenai hilangnya pesawat AdamAir di Sulawesi Barat. Atau seorang peneliti di sebuah universitas besar di luar negeri juga akan memberikan bobot tersendiri. Namun editor juga tidak tergantung nama besar Anda tetapi juga kualitas dan kuantitas tulisan. Seorang akademisi yang menulis membosankan tidak akan banyak memberi manfaat apalagi disertakan berbagai teori yang “berat”.

6. Gaya tulisan enak dibaca

Gaya tulisan juga akan sangat mempengaruhi keputusan editor artikel. Sebuah tulisan yang diuraikan dengan gaya bahasa yang enak tetapi berbobot mungkin akan dipertimbangkan lebih lama. Untuk menemukan bagaimana gaya menulis Anda tentu dilalui dengan latihan. Meskipun gaya tulisan Anda misalnya masih kaku, asalkan cukup jelas dan ringkas, Artikel anda masih banyak peluangnya.

7 Format yang apik

Tulisan yang berbobot tidak hanya dalam uraian dan sudut pandangnya, tetapi juga dalam cara penyajiannya. Dengan digitalisasi hampir semua surat kabar dan majalah di Indonesia maka menulis dengan komputer merupakan sebuah kemestian. Tantangannya, seringkali error dalam menuliskan istilah atau tanda-tanda baca kerapkali terlewat. Biasakan dengan menulis yang apil sesuai tanda baca dan sesuai bunyi kata. Editor biasanya cepat mengetahui bagaimana tingkat kesungguhan Anda dalam menulis ketika melihat bentuk tulisan dan kesalahan gramatikal atau kesalahan pengetikan kata. Semakin banyak kesalahan menuliskan kata-kata akan semakin cepat disingkirkan dari urutan untuk dimuat.

Tips di atas tentu saja sekali lagi bukan sebuah “pakem” dimuat dan tidaknya sebuah tulisan. Adakalanya karena editor ingin sekali memuat sebuah topik yang lagi hangat dibahas dan sedikit pilihannya maka bisa jadi tulisan Anda pun lolos untuk dimuat meskipun editor harus kerja keras merombak dan mengeditnya.

Pengalaman di Kuwait pasca Perang Teluk 1991

Tulisan saya bersama wartawan senior Kompas M. Sjafe’i Hassanbasari di Kuwait merupakan salah satu karya jurnalistik ke daerah pasca perang. Barangkali menarik mengenai cara pelaporannya.

LIMA HARI SETELAH KUWAIT DIBEBASKAN

*Lima jam di Kuwait City (1)

 

Pengantar Redaksi

Wartawan Kompas M. Sjafe’i Hassanbasari dan Asep Setiawan tanggal 4 Maret 1991 bersempatan melihat-lihat Kuwait City, ibu kota Kuwait, setelah dibebaskan pasukan multinasional. Kesan-kesannya akan diturunkan lewat tulisan berikut.

TEPAT dua jam setelah terbang dari Riyadh, ibu kota Arab Saudi, pesawat militer Hercules C-130 milik Royal Saudi Air Force mendarat mulus di bandara udara Kuwait City Senin pagi (4/3). Jam menunjukkan pukul 09.00 waktu setempat. Tanpa diduga, sepasang penumpang yang juga terbang bersama kami ternyata Paul Findley dan istri, pengarang buku They Dare to Speak yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia Mereka Berani Bicara. Buku ini mengungkapkan seluk-beluk lobi Yahudi yang banyak mempengaruhi kebijakan AS mengenai masalah Timur Tengah, sehingga ia tidak disukai oleh Pemerintah Israel dan kaum Yahudi di AS karena kecamannya itu. Mantan anggota Kongres AS dari Illinois sekitar 20 tahun dan juga kolumnis ini juga ingin melihat dari dekat suasana di Kuwait setelah dibebaskan dari pendudukan Irak.

 

Begitu keluar dari pesawat terasa perpaduan antara sengatan matahari dan tiupan angin dingin yang menusuk kulit. Aroma perang masih keras tercium. Di bandara yang kini hanya berfungsi sebagai pangkalan militer terpancar suasana mencekam, tapi keadaannya tidak seperti yang dibayangkan semula. Ternyata keadaan bandara relatif masih utuh. Kerusakan berat hanya menimpa menara pengatur lalu lintas udara dan bangunan ruang tunggu penumpang yang berantakan, sedangkan landasan pacu berkondisi baik. Pada suatu sudut ada bangkai dua pesawat komersial. Sebuah pesawat B-747 milik British Airways hanya tinggal bagian ekor bergambar logo maskapai penerbangan ini, dan di sampingnya ada reruntuhan pesawat DC-9 milik Kuwait Airways yang hanya berupa gundukan logam.

Selama penerbangan dengan pesawat pengangkut militer yang dimodifikasi seperti pesawat komersial, sejauh-jauh mata memandang nun di bawah sana hanya padang pasir gersang berwarna coklat muda. Loreng warna coklat muda itu pula yang menjadi pakaian tempur pasukan multinasional. Sandi yang digunakan pun dikaitkan dengan padang pasir, yaitu “Desert Shield (Perisai Padang Pasir)” semasa Krisis Teluk, kemudian diubah menjadi “Desert Storm” (Badai Padang Pasir) setelah krisis meningkat menjadi perang.

Begitu mendekati wilayah Kuwait, udara di luar seperti berkabut. Asap hitam dari sumur minyak yang terbakar membubung tinggi ke udara membentuk payung raksasa. Kobaran api ratusan sumur minyak terbakar itu tampak jelas dari jendela pesawat. Sulit membayangkan bagaimana mematikan api yang berkobar-kobar, walaupun dari udara tampak seperti lilin-lilin kecil. Sumber daya alam yang menjadi salah satu faktor penyebab perang itu terbuang percuma. Emas hitam yang seharusnya dimanfaatkan untuk kemaslahatan dan kesejahteraan umat manusia dirusak, sehingga meracuni lingkungan hidup.

Jika dari ladang minyak yang kecil saja sudah begitu banyak asap yang mengakibatkan udara seperti mendung, tidak dapat dibayangkan keadaan udara di sekitar ladang-ladang utama minyak Kuwait. Pernah disiarkan foto yang menggambarkan udara di seberang kota perbatasan Khafji pada siang hari. Matahari tertutup oleh asap hitam yang tebal. Kota kecil Arab Saudi dekat perbatasan Kuwait ini sempat dikuasai beberapa hari oleh tentara Irak sehingga memberikan dampak psikologis yang mencuatkan tentang suatu ketangguhan.

    ***

SEBELUM berangkat ke Kuwait dari Riyadh Conference Palace tempat kami menginap, pejabat Kementerian Penerangan Arab Saudi dan Protokol Kerajaan yang mengatur perjalanan menyarankan kepada para wartawan untuk membawa bekal seperti air, roti, dan buah-buahan.

 

“Di Kuwait tidak ada makanan. Tentara Irak telah mencuri semua yang ada di Kuwait. Mereka telah mengangkutnya ke negaranya,” seloroh Nabil Murad, staf Kementerian Penerangan yang mengantar rombongan.

 

Rombongan wartawan Indonesia berjumlah enam orang, yakni dua dari Kompas, dan masing-masing satu orang dari Pelita, Berita Buana, Harian Terbit, dan Media Dakwah. Dari Malaysia empat orang wartawan terdiri dari tiga personel RTM dan seorang dari kantor berita Bernama.

 

Di bandara Kuwait City yang lengang, bahaya masih mengintip. Kami diingatkan tetap berhati-hati karena masih banyak ranjau. Tentara multinasional dari kontingen Amerika dan Inggris tampak siaga walaupun terkesan lebih santai. Tidak ada seorang sipil pun berada di lokasi vital ini. Semuanya serba militer. Di dekat sebuah truk militer yang diduga merupakan kendaraan komunikasi, seorang tentara AS kulit hitam sedang mencuci pakaian. Kelelahan masih terbayang di wajahnya, tapi ia membalas sapaan dengan ekspresi ceria sambil mengacungkan jari membentuk huruf “V” (Victory).

Puluhan helikopter tempur Apache dan jenis lainnya serta pesawat transpor Hercules berjejer. Sementara itu beberapa helikopter mengadakan patroli dari udara, dan di seberang lain sebuah jip militer AS yang dilengkapi senjata mesin mengadakan patroli mengitari bandara. Suasananya betul-betul masih mencekam.

 

Sebuah hanggar besar miliki Kuwait Airways bagian atas dan bagian sampingnya hancur, mungkin bekas bom yang dijatuhkan dari pesawat multinasional. Pecahan kaca dan peralatan kantor berserakan. Dari kenyataan yang ada, tampaknya serangan udara kekuatan multinasional untuk merebut bandara cukup akurat. Kerusakan diupayakan seminimal mungkin, terbukti dari tetap mulusnya landasan pacu di bandara. Di tempat parkir mobil di luar bandara, pemandangan yang pertama terlihat adalah belasan mobil sedan yang dihancurkan tentara Irak pada serangan tanggal 2 Agustus 1990.

Di jalan aspal berserakan kelongsongan peluru maupun peluru-peluru yang belum terpakai. Pada suatu sudut taman ada sebuah lubang perlindungan bekas tentara Irak mengawasi jalan masuk ke bandara
udara.

    ***

DALAM situasi lepas perang, memang kita harus sudah mengantisipasi segala kemungkinan termasuk peluang untuk bisa melihat dari dekat Kuwait City. Karena itu wajar kalau semula ada rasa pesimis mendapatkan kendaraan yang bisa mengangkut kami ke kota. Alhamdullilah, setelah sekitar satu jam menunggu akhirnya Nabil berhasil mendapatkan mobil pick-up bak terbuka dengan persediaan lima jerigen bensin. Seorang pengawal bersenjata M-16, Kapten Angkatan Udara Kuwait bernama Al Adwani mengantar rombongan wartawan dari dua negara serumpun berkeliling ke seluruh penjuru Kuwait City. Ketika Irak menyerbu Kuwait 2 Agustus 1990, penerbang helikopter antitank ini sempat menyelamatkan sebuah pesawat helikopter ke wilayah Arab Saudi. Ia kemudian mendapat gemblengan baru ilmu perang sehingga rasa percaya diri tetap terpelihara. Tapi ia sama sekali tidak berkomentar mengapa banyak satuan militer Kuwait yang melarikan diri.

 

Memasuki ibu kota Kuwait, suasana mencekam semakin terasa. Kota modern yang sebelumnya terkenal bersih ini tidak terawat, namun keadaannya dapat dikatakan masih utuh walaupun di sana-sini tampak gedung-gedung yang hancur atau bekas terbakar. Toko-toko tutup dan kehidupan kota masih sangat terbatas. Ada sebuah restoran yang buka tapi tidak jelas apakah sudah berfungsi karena tidak tampak ada pengunjung. Bangkai mobil-mobil mewah di kiri-kanan jalan menjadi saksi mati kisah yang menyedihkan. Di pelataran sebuah toko mobil yang gedungnya hangus terbakar, tampak belasan mobil yang hancur. Sebagian besar dari mobil yang bergelimpangan itu bannya atau bagian penting lainnya telah dipreteli. Tidak begitu jelas apakah mobil yang ringsek itu akibat serangan udara atau sengaja dirusak.

 

Di sebuah jalan simpang, Al Adwani menunjukan sebuah mobil yang jatuh dari atas jalan layang. “Itu perbuatan tentara Irak,” katanya, sambil menunjuk tempat yang pernah menjadi check point tentara Irak.

 

Kini, di tiap persimpangan ada pos pemeriksaan oleh anggota pasukan multinasional atau tentara Kuwait dibantu para sukarelawan bersenjata. Para sukarelawan ini terdiri dari anggota perlawanan

 

Kuwait semasa pendudukan Irak. Mereka umumnya mahasiswa dan pemuda. Di salah satu bagian kota ada sekelompok orang yang duduk di tanah dijaga petugas karena identitas mereka diragukan. Tindakan pembersihan terhadap anasir pro-Irak memang tengah dilancarkan. Seperti diungkapkan Adwani, warga Palestina yang pro-Irak dan mereka yang bekerja sama dengan tentara pendudukan, kini diuber.

 

Bendera Kuwait muncul kembali di mana-mana. Bahkan di depan sebuah rumah tergantung bendera Kuwait dalam ukuran sangat besar. Di rumah lainnya terpampang foto Emir Kuwait Sheikh Jaber al-Ahmad al-Sabah dan Putra Mahkota Sheikh Saad Abdullah al Sabah. Putra Mahkota ini bersama sejumlah pemimpin lainnya tiba kembali di tanah airnya dari pengasingan di Arab Saudi, setelah kami kembali ke Riyadh.

Berkat pengawalan Kapten Al Adwani, rombongan kami bebas dari pemeriksaan dan petugas pemeriksa mengucapkan salam atau mengacungkan tangan membentuk huruf “V” (kemenangan). Salam kemenangan ini juga dilontarkan oleh penumpang mobil pribadi yang sudah mulai banyak berlalu-lalang. Mereka hanya putar-putar keliling kota untuk melampiaskan kegembiraan. Di setiap pompa bensin terdapat antrean panjang mobil pribadi warga Kuwait City.

 

Al Adwani menunjukan sebuah tugu yang sebelumnya ditempeli foto Presiden Irak Saddam Hussein. “Dulu ada foto Saddam, tetapi dicopot oleh tentara perlawanan Kuwait,” ujar Adwani. Di sebuah ladang pertanian modern, persis di pintu sebelah kiri masih terpampang dua gambar Saddam yang sudah robek sebagian. Uniknya, menjelang pintu masuk terdapat gambar Sheikh Jaber al-Ahmad al-Sabah.

 

Mobil kami berpapasan dengan truk yang ditumpangi sejumlah pekerja asal Mesir. Mereka membawa gambar Presiden Mesir Hosni Mubarak dan bendera Kuwait. Di sebuah jalan ada dua pria berjalan kaki; yang seorang membawa gambar Mubarak sedangkan yang lainnya membawa bendera Kuwait. Ini merupakan ungkapan persahabatan dari warga Mesir yang bekerja di Kuwait, atau juga kebanggaan atas peran Mesir dalam pembebasan Kuwait. *** (bersambung)

Kecepatan dan akurasi

Salah satu hukum tidak tertulis dalam bidang pemberitaan adalah kecepatan. Seorang wartawan di lapangan dituntut secepatnya melaporkan apa yang terjadi di bidang liputannya. Semakin cepat semakin unggul media itu. Kantor berita dan berita online andalannya adalah kecepatan.

Selain kecepaan, akurasi juga penting. Kecepatan harus diimbangi dengan tanggung jawab dalam pemberitaan. Jangan sampai ingin cepat, tidak ada konfirmasi lagi. Hal ini bisa fatal terjadi misalnya ketika memberitakan meninggalnya seorang pejabat tinggi atau mantan menteri.

Keluarga mereka bisa jadi menuntut  medianya. Akurasi bisa dicapai antara lain dengan double check. Jangan mengandalkan satu sumber. Cek silang selalu setiap info sebelum dilepas melalui media.

Selalu melakukan double check

Jangan malu bertanya. Kalau perlu berulang kali. Jabatan, nama gedung, nama perusahaan, nama negara bahkan nama seseorang perlu ditulis dengan akurat. Jika kita ingin mendapatkan berita dan laporan akurat jangan malu bertanya lagi mengenai nama dan jabatan yang diwawancara.

Baru-baru ini saya wawancara Pak Rusman Heriawan. Sebelumnya beliau menjabat Deputi  Kepala BPS dan bulan Agustus beliau mengatakan sudah dua bulan menjadi Kepala Badan Pusat Statistik. Hal itu diketahui karena saya bertanya ulang, jabatannya apa yang terakhir.

Penjelasan Pak Rusman Heriawan memberikan koreksi yang sangat penting dalam unsur berita. Kenaikan pangkat sering terjadi oleh sebab itu nama perlu dicek ulang. Cek ulang seluruh fakta yang diterima. Bersikaplah skeptis.

Nara sumber akan senang apabila nama dan jabatannya tepat diberitakan. Itulah pentingnya cek ulang dalam penulisan laporan.

Berita sebagai mosaik peristiwa

Saya teringat sebuah penjelasan dari seorang wartawan senior Kompas bahwa ketika menulis berita kita melihatnya sebagai sebuah sekuen. Peristiwa tidak muncul begitu saja. Ada latar belakangnya dan ada pula akibatnya.

BBC News

Jadi sebuah event tidak berdiri sendiri. Itulah prinsip penting dalam penulisan berita. Kita datang ke sebuah peristiwa apakah itu perang di Lebanon atau datang ke acara peresmian pabrik pupuk, tentu ada peristiwa yang mendahuluinya.

Itulah yang perlu  diketahui ketika terjun kedalam liputan. Saya baru mendengar bahwa kasus Mantan Presiden Suharto bisa dilanjutkan karena pembatalan sebelumnya tidak sah. ah tentu perlu diketahui mengapa kasus ini masih muncul. Mengapa dulu dibatalkan penyidanganya ? Itulah yang akan menjadi bagian dari berita dan liputan.

Jurnalis di lapangan perlu tahu kasus apa saja yang diajukan. Sumber informasi bisa datang dari arsip media, bertanya kepada pakar atau dari para pengacara terdakwa. Setidaknya dalam penulisan akan terasa tidak ada rasa ragu-ragu. Perspektif akan lebih luas dibandingkan jurnalis yang tidak punya background.

Demikian pula perlu diantisipasi apa yang akan terjadi kemudian. Pemikiran pertama tentu reaksi dari tim pengacara Soeharto

Oleh sebab itulah sebuah berita merupakan mosaik. Dia adalah bagian dari sebuah gambar besar. Kejadian yang kita liputa dalam satu hari tertentu merupakan sekuens atau urutan dari sebuah peristiwa.

Tepati deadline

Salah satu musuh dari jurnalis adalah deadline. Inilah yang selalu dikatakan oleh editor kepada wartawan yang bertugas di lapangan baik di dalam maupun di luar negeri, baik di kota maupun di pedalaman. Deadline.

Hongkong

Saya teringat ketika bertugas dengan Rene Patiradjawane dalam liputan penyerahan Hongkong dari Inggris ke Cina tahun 1997 menjelang krisis moneter di Indonesia. Begitu banyak tulisan yang harus dikirim ke Jakarta dari Hongkong dan begitu ketat deadline. Perbedaan waktu memang tidak begitu jauh namun liputan ke lapangan dengan berbagai topik serta current news memang tidak gampang.

Kami harus berbagi tugas untuk liputan. Berbagai angle dikembangkan setiap hari untuk penulisan dan satu angle besar untuk halaman satu.

Salah satu kiat memang menentukan kapan semua berita itu masuk dan kapan angle yang tepat ditentukan terutama untuk halaman satu. Untuk halaman dalam deadline lebih siang sehingga penulisan harus lebih cepat dan lebih sore. Penentuan angle berita di dalam dan luar bisa dikembangkan berdasarkan pada bidang ekonomi, politik, sosial atau budaya. Speed memang menentukan karena selain beritanya banyak, Hongkong menjadi fokus dunia.

Satu lagi dalam memenuhi deadline adalah cara pengiriman. Dengan berkembangnya email pengiriman memang menjadi lebih mudah namun jangan lupa internet juga sering bermasalah. Kita harus menyiapkan berbagai cara juga seperti fax sebagai alternatif.

Kiat lainnya adalah memang sebelum pengiriman berita atau foto dilakukan uji cobalah pengiriman itu. Lewat email, FTP, atau faksimile tetap harus dites dahulu.

Memberitakan konflik

Sama seperti menuliskan berita lainnya, penurunan tulisan berkaitan dengan konflik membutuhkan akurasi. Akurasi dalam menuliskan peristiwa, akurasi dalam mengutip dan akurasi juga menyebutkan nama. Secara teknis akurasi ini sangat penting.

Beirut

Namun dalam prakteknya angle penulisan akan sangat dipengaruhi dimana media itu berada dan siapa pemilik media itu.

Secara teoritis, penulisan berita atau analisa wartawan tentunya mempertimbangkan aspek berimbang, tidak memihak dan obyektif. Namun prakteknya tidaklah mudah. Banyak pertimbangan editorial di dalamnya.

Ambil contoh pemboman Israel di Lebanon. Bagi sebagian besar surat kabar dan media Indonesia pemboman itu merupakan kekejaman dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Namun bila datang ke media di Eropa, taruhlah seperti itu maka pemboman itu sebagai peristiwa perang antara Hizbullah dan Israel.

Sebagai penulis berita terutama dari sumber kedua, maka pembaca perlu dipertimbangkan sebagai bagian dari angle penulisan. Tentu saja cara menuliskan berita juga akan mempengaruhi emosi pembaca. Memuji-muji Israel di media seperti Indonesia akan menimbulkan masalah bagi media itu. Bahkan kutipan perdana menteri juga mungkin akan bermasalah jika menempatkannya salah.

Konflik memang rumit. Menuliskan berita mengenai konflik seperti perang akan lebih sulit lagi. Di sini perlu pertimbangan kedua, second opinion untuk melihat sebuah berita sebelum dicetak atau disiarkan.

Kebijakan editorial ketika penulisan liputan (2)

Dalam tulisan terdahulu pernah disinggung mengenai kebijakan editorial sebagai panduan dalam penulisan liputan. Kompas sebagai salah satu surat kabar yang mapan telah menetapkan serangkaian kebijakan editorial yang menjadi darah daging dalam penulisan para wartawannya. Tidak hanya penulisan laporan tetapi juga angle liputan, penyusunan berita dan secara keseluruhan tampilan Kompas seperti yang kita simak setiap hari.

Tentu saja dalam beberapa hal ada pengecualian. Namun seperti dijelaskan Jacob Oetama, pendiri, perintis dan mantan Pemred Kompas, humanisme trasendental menjadi bagian penting dalam liputan.

Di BBC pun kebijakan editorial sudah menjadi bagian penting dalam mengendalikan output media. Baik Radio, Televisi maupun Internet, kebijakan editorial sangat penting dalam liputan.

Beberapa poin mengenai kebijakan editorial dapat disimak selengkapnya dalam situs BBC.

Singkatnya adalah:

1.Truth and accuracy

Kebenaran berita lebih penting dari kecepatan. Akurasi jauh lebih penting juga dari sekedar cepat memberitakan. 

2. Impartiality & diversity of opinion

Tidak memihak. BBC berusaha menempatkan sesuatu secara seimbang, dua belah pihak atau lebih yang bertikai diberi tempat sama. 

3. Editorial integrity & independence

BBC memiliki peran sebagai sumber independen, tidak memihak kepada pengusaha atau pemerintah

4. Serving the public interest

5. Fairness

6. Privacy

7. Harm and offence

8. Children

9. Accountability

Istilah editoral policy lainnya bisa dibaca dalam situs BBC.

1.2.1 Trust

Trust is the foundation of the BBC: we are independent, impartial and honest.  We are committed to achieving the highest standards of due accuracy and impartiality and strive to avoid knowingly and materially misleading our audiences. 

1.2.2 Truth and Accuracy

We seek to establish the truth of what has happened and are committed to achieving due accuracy in all our output.  Accuracy is not simply a matter of getting facts right; when necessary, we will weigh relevant facts and information to get at the truth.  Our output, as appropriate to its subject and nature, will be well sourced, based on sound evidence, thoroughly tested and presented in clear, precise language.  We will strive to be honest and open about what we don’t know and avoid unfounded speculation.

1.2.3 Impartiality

Impartiality lies at the core of the BBC’s commitment to its audiences.  We will apply due impartiality to all our subject matter and will reflect a breadth and diversity of opinion across our output as a whole, over an appropriate period, so that no significant strand of thought is knowingly unreflected or under-represented.  We will be fair and open-minded when examining evidence and weighing material facts. 

1.2.4 Editorial Integrity and Independence

The BBC is independent of outside interests and arrangements that could undermine our editorial integrity.  Our audiences should be confident that our decisions are not influenced by outside interests, political or commercial pressures, or any personal interests. 

1.2.5 Harm and Offence

We aim to reflect the world as it is, including all aspects of the human experience and the realities of the natural world.  But we balance our right to broadcast innovative and challenging content with our responsibility to protect the vulnerable from harm and avoid unjustifiable offence.  We will be sensitive to, and keep in touch with, generally accepted standards as well as our audiences’ expectations of our content, particularly in relation to the protection of children.

1.2.6 Serving the Public Interest

We seek to report stories of significance to our audiences.  We will be rigorous in establishing the truth of the story and well informed when explaining it.  Our specialist expertise will bring authority and analysis to the complex world in which we live.  We will ask searching questions of those who hold public office and others who are accountable, and provide a comprehensive forum for public debate.

1.2.7 Fairness

Our output will be based on fairness, openness, honesty and straight dealing.  Contributors and audiences will be treated with respect. 

1.2.8 Privacy

We will respect privacy and will not infringe it without good reason, wherever in the world we are operating.  Private behaviour, information, correspondence and conversation will not be brought into the public domain unless there is a public interest that outweighs the expectation of privacy.

1.2.9 Children

We will always seek to safeguard the welfare of children and young people who contribute to and feature in our content, wherever in the world we operate.  We will preserve their right to speak out and participate, while ensuring their dignity and their physical and emotional welfare is protected during the making and broadcast of our output.  Content which might be unsuitable for children will be scheduled appropriately.

1.2.10 Transparency

We will be transparent about the nature and provenance of the content we offer online.  Where appropriate, we will identify who has created it and will use labelling to help online users make informed decisions about the suitability of content for themselves and their children.

1.2.11 Accountability

We are accountable to our audiences and will deal fairly and openly with them.  Their continuing trust in the BBC is a crucial part of our relationship with them.  We will be open in acknowledging mistakes when they are made and encourage a culture of willingness to learn from them.